Friday, July 29, 2022

,

Saat "Sandera" Penculikan Malah Ketagihan Minta Di Culik Lagi #ReviewDramaKorea Extraordinary Attorney Woo



Siapa yang mengikuti drama Extraordinary Attorney Woo  terutama episode 9 ?
Janji gak nangis ya kalau nonton drama ini. Kisahnya ringan, relate dengan kondisi keseharian. Tapi dialog yang sering di keluarkan oleh Woo Young Woo bisa deep banget !

sebagai kaum emak-emak, yang juga memiliki anak usia sekolah. Episode 9 adalah episode favorit saya sejauh ini. Bercerita tentang kerasnya sistem pendidikan di Korea Selatan. Soal drama, Korea selatan emang JAGO. Di kemas dengan ringan, tapi penuh isi.

Pak Kentut ?
Siapa di dunia ini yang mau bernama KENTUT ?
mendengarnya aja udah bikin jijik.
Tapi ada yang rela mengganti namanya menjadi KENTUT agar mudah akrab dengan anak-anak.

Ia menyebut dirinya PANGLIMA TENTARA PEMBEBASAN ANAK-ANAK.

Panglima yang mendeklarasikan diri memerangi segala bentuk politik yang merugikan anak-anak. Sistem sekolah yang tidak memihak anak-anak dan Orang tua yang ambisius.

Berawal dari aksinya Pak Kentut, yang mengambil alih Bus Bimbel Akademi Mujin (Bimbel Milik Ibunya) untuk tamasya ke sebuah Bukit. Ia mengajak anak-anak bermain, bernyanyi, main permainan daerah. Mereka tertawa, berbagi cerita dan menyatakan deklarasi bersama. Tidak ada yang menduga, bahwa aksinya ini membawa Pak Kentut ke penjara. Karena ia dilaporkan atas tuduhan penculikan anak-anak. Padahal Pak Kentut hanya ingin melepaskan anak-anak dari rutinitas yang membuat mereka menderita setiap hari.

Kasusnya sampailah pada Woo young woo yang ditunjuk sebagai pengacara.

Deklarasi oleh Pak Kentut untuk para sanderanya

Masa Kecil yang Hilang

Tidak di ceritakan secara jelas, apa yang menimpa Pak Kentut hingga mengalami delusi bahwa ia adalah Panglima Tentara Pembebasan Anak-Anak. Namun jika melihat beratnya beban anak-anak yang diceritakan dalam drama. Anak sekolah dari pagi hingga jam 12 malam. Sungguhlah, pasti masa kecilnya penuh dengan trauma. Walau Ibunya mengaku, bahwa anaknya lulusan Kampus terbaik di Korea. Namun pada akhirnya, anaknya tidak bahagia. Saat dewasa, ia justru bertingkah seperti anak-anak. Tak ingin masa kecilnya yang suram terjadi pada anak-anak lain. Maka ia menyatakan diri, bahwa dialah penyelamat anak-anak dari sandera pendidikan dan orang tuanya.

Rasanya kasus ini relate sekali dengan kondisi sekolah masa kini. Anak-anak memulai harinya dari jam 7 pagi. Hingga berakhir jam sekolah sekitar pukul 3 sore. Jangka waktu yang sangat lama. Belum lagi jika anak harus mengikuti les tambahan. Durasinya bisa 1 sampai 2 jam. Membayangkan aja saya merinding. Ini kelas 1 SD yaaa.

Saya ingat, waktu SMA kelas 3. Saya pulang sekolah jam 1.45 siang. Jam segitu saja sudah sangat menyiksa, Mengantuk, lapar, capek belum lagi sampai rumah udah kepikiran PR.

Nah, bagaimana jika anak SD masuk jam 7 pagi, pulang jam 3 sore. Saya tidak tau lagi, bagaimana rasanya menunggu jam dan menit menuju pulang. Pasti akan terasa sangaaaattt lama. 


Kritik Sosial Tentang Pendidikan

Paus pembunuh VS Anak dalam Kelas


Drama ini mengkritik sistem pendidikan Korea Selatan yang tidak memihak anak. Tuntutan beratnya pelajaran, di ibaratkan seperti Orca, Paus pembunuh yang harus hidup di aqurium untuk dinikmati oleh pengunjung. Paus stress, hingga membuat siripnya di bagian punggung membengkok. Frustasi dalam menjalani hidup di aquarium. Namun hiburan bagi para pengunjung.

Bisakah saya menganalogikan bahwa Paus Pembunuh adalah anak-anak dan pengunjung Aquarium adalah para orang tua. Paus terlihat meliuk-liuk dan melombat. Berenang kesana-kemari. Dikira oleh pengunjung sedang berbahagia dan bermain. Faktanya si Paus sedang frustasi mencari pintu keluar menuju kebebasan di Lautan.

Apakah seperti ini kondisi pendidikan kita saat ini ?
orang tua berlomba menyekolahkan anak di sekolah terbaik. Semakin lama durasi sekolah, artinya semakin baik untuk anak. Semakin banyak PR dan Materi kurikulum yang diterima anak maka semakin bagus untuk masa depan anak. Setidaknya itu pikiran orang tua.

Hingga melahirkan generasi yang mudah bingung dengan segala kemudahan yang ia miliki, sulit mengambil keputusan, rapuh, mudah marah, mudah putus asa, tidak memiliki cita-cita dengan kata lain Generasi Strawberry. Mudah busuk dan lembek dalam segala situasi. Kepanasan dia busuk, kedinginan pun bisa busuk.


Memanusiakan Anak

Memanusiakan Anak

Kenapa sebagai orang tua, kebanyakan kita khawatir jika anaknya BANYAK bermain ?
Khawatir jika anak tidak terlihat mempelajari sesuatu.
Khawatir jika anak hanya melakukan hobby nya saja.
Khawatir jika kecerdasan yang anak miliki, tidak sama dengan anak lainnya
Khawatir jika pencapaian anak kita terlihat lambat dari anak lain. Muncul lah keinginan untuk mengikutkan anak les.

Ternyata, kita hanya TIDAK PERCAYA PADA ANAK.

Saat anak bermain, ia belajar memecahkan masalah, mengasah motorik halus dan kasarnya. Belajar berinteraksi, belajar menghindari konflik, belajar menghadapi tantangan. Namun dimata orang tua, anaknya HANYA TERLIHAT BERMAIN.

Saat anak terjatuh, ia belajar menghadapi rasa sakit, ia belajar berhati-hati, ia belajar mengenali fungsi motoriknya, ia belajar cara menyeimbangkan diri. Namun dimata orang tua IA JATUH DAN NANTI SAKIT.

Orang tua tidak percaya, bahwa begitulah cara anak berkembang. Cara anak untuk tumbuh.
Dalam sebuah buku, saya lupa judulnya apa. Salah satu kalimat yang saya sukai adalah "JIKA MENANYAKAN APAKAH ANAK SEDANG MEMPELAJARI SESUATU, SAMA HALNYA MENANYAKAN BAGAIMANA ANAK TUMBUH"

Jadi bunda, biarlah anak berkembang secara alami
ijinkan dia menikmati masa kecilnya.
ada saatnya kelak ia sibuk belajar, ia sibuk menghapal bahkan sibuk bekerja. Perlahan mulai menjauh dari kehidupan kita. Saat masa kecil inilah, masa dimana ia lekat dengan erat kepada orang tuanya. Jangan segera usir mereka untuk bekerja keras lepas dari pelukan kita sebelum waktunya.

Terima kasih Kapten Kentut,
telah mengingatkan kembali. Betapa penting BERMAIN untuk anak-anak.


Share:

2 comments:

  1. aku udah nonton nih kak episode ini jg.. Pendidikan di Korea memang seperti itu, kalo kakak pernah nonton drakor SKY CASTLE, lebih parah lagi. Dramanya benar2 menunjukkan bagaimana ketatnya pendidikan di korea merenggut masa kanak2 mereka..

    ReplyDelete
  2. Masa kecilku benar2 bahagia, bermain , belajar semua aku nikmati karena orangtua tak pernah menuntutku harus belajar supaya jadi juara kelas. Nah ketika aku menjadi orangtua, aku melakukan hal yang sama pada anakku, Aku hanya pemberi arahan dan pendapat atas apa yang anak maukan, selebihnya biar anak yang melakukannya karena dia sendiri yang akan merasakan pilihannya itu. Aku hanya mengawasi dan selalu membuka peluang dan waktu untuk dia berkeluh kesah.

    ReplyDelete