Monday, July 27, 2020

, ,

ULASAN BUKU IBUK #5 : Unschooling, Mendobrak Tradisi Pendidikan


Buku : Unschooling
Penulis : Inge Tumiwa - Bachrens
Penerbit : PT Kawan Pustaka (2020)
Jumlah Hal : 328 hal ; 20cm

Sekolah berasal dari bahasa Yunani Skole yang berartinya waktu luang, waktu senggang (free time). Jadi awal mulanya adanya sekolah adalah untuk mengisi waktu luang anak dengan melakukan hal yang ia senangi. Jadi sudahkah makna tersebut sesuai dengan perilaku sekolah saat ini? Mari kita bahas berdasarkan  buku Unschooling oleh Inget Tumiwa - Bachrens


Suatu hari, Dani (anak bungsu Inge Tumiwa) merasa sedih dan tidak berharga karena dikeluarkan dari pementasan drama yang ia senangi. Alasan sederhana, nilai matematikanya tidak memenuhi standar kelulusan di sekolah tersebut. Kekecewaan ini membawa Inge Tumiwa beserta suaminya menemui sekolah dan membicarakan solusi terbaik. Kesedihan si bungsu, jelas membuat orangtua gusar.

Namun hasil pertemuan itu tidak berjalan dengan mulus. Pihak sekolah tetap merasa bahwa si bungsu lah yang bermasalah, harus di perbaiki. Harus menambah jam belajar bahkan merelakan jam istirahat untuk mendapat pelajaran tambahan matematika. Mengejar nilainya yang dianggap sekolah masih tertinggal. Pertemuan ini, memantik pertanyaan "Apakah sekolah peduli terhadap kebahagiaan anak ?"

Apa sesungguhnya tujuan bersekolah ?
Agar lulus Ujian Nasional ?
Agar bisa kuliah kemudian mendapat gelar sarjana ?
Kerja ?
Uang ?

Pertanyaan-pertanyaan mendasar muncul seketika. Bahkan orangtua pun terkadang kesulitan untuk menjawab. Karena sekolah tak lebih dari sebuah tradisi. Karena orangtua bersekolah, masyarakat sekitar sekolah, semua anak-anak sekolah maka anak kita pun harus ikutan sekolah. Tanpa menyelami lebih dalam, kenapa harus sekolah ?

Paradigma saat ini, bersekolah sama artinya dengan berpendidikan. Hingga tidak sekolah artinya tidak berpendidikan. Tidak pintar dan tidak beretika.

Konsep sekolah yang sudah dibangun ratusan tahun ini ternyata tidak berubah. Hanya mengganti kurikulum, mengganti metode namun prakteknya masih sama. Ibaratnya sebuah buku, hanya mengganti judul dan sampul saja. Isinya masih sama.


Pendidikan kita seringkali mengaitkan nilai tinggi sebagai ukuran kecerdasan seseorang. Nilai dari 1-10 seolah mewakili kapasitas otak seseorang. Luput tentang penilaian daya pikir, kritis, moral seorang anak. Dan kecerdasan yang paling diakui saat ini terbatas pada kecerdasan akademis. Belum dikatakan pintar jika tidak mendapat nilai tinggi untuk matematika dan IPA. Seharusnya kita sepakat dengan para pakar.pendidikan. Bahwa kecerdasan itu ada 8 :
  1. Kecerdasan spasial atau visual
  2. kecerdasan kinestetik tubuh
  3. kecerdasan linguistik-verbal
  4. kecerdasan musikal
  5. kecerdasan logika matematika
  6. kecerdasan interpersonal
  7. kecerdasan intrapersonal
  8. kecerdasan naturalis
Jadi kecerdasan matematika hanya salah satu dari 8 jenis kecerdasan anak. Jika sudah begini, kita paham bahwa setiap anak cerdas sesuai dengan kecerdasan masing-masing dirinya.


Kata Toxic sedang populer. orang makin sadar bahwa ada jenis toxic relationship, toxic friends dan berbagai jenis toxic lainnya. Namun apakah kita juga sadar ? bahwa ada juga Toxic School. Sekolah toksin yang membunuh jiwa anak pelan-pelan.

Jenis sekolah seperti ini hanya peduli pada angka pencapaian penilaian anak. Score yang dimiliki anak. Tidak peduli anak gemilang dalam urusan olahraga, seni dan kecerdasan lainnya jika tidak memilki score yang tinggi terhadap nilai akademis seperti matematika dan IPA maka anak ini bodoh. Layak mendapat hukuman, dipermalukan, dikucilkan dan dirampas jam istirahatnya untuk diganti dengan les tambahan.

Jika kita renungkan lebih dalam, sebenarnya siapa yang paling diuntungkan jika nilai anak tinggi? 


Dalam buku ini, penulis juga merangkum pandangan tentang sekolah dan sistem pendidikan konvensional yang saat ini terjadi di Indonesia :
  1. Sekolah konvensional hanya peduli pada tujuan jangka pendek. Nilai akademis, lulus ujian dll
  2. Sekolah konvensional mengajarkan anak untuk membaca tapi tidak mengajarkan anak memahami bacaannya
  3. Sekolah konvensional mengajarkan anak berpikir dangkal.
  4. Sekolah konvensional mengajarkan anak menghitung dan menghafal rumus
  5. Banyak sekolah konvensional di Indonesia menggunakan tenaga pendidik yang tidak bisa menjadi role model (contoh) dalam kehidupan anak
  6. Tenaga didik kurang memahami metode pembelajaran
  7. Kebanyakan tenaga pendidik konvensional mengajar karena status quo. Tidak mau berubah, tidak mau menyesuaikan diri dengan perubahan zaman
  8. Sekolah konvensional sering tidak mendukung anak belajar di luar sekolah dan menganggap kegiatan non akademis anak hanya buang waktu.
  9. Sekolah konvensional tidak memihak pada kepentingan anak, namun kepentingan sekolah
  10. Sistem pendidikan konvensional mematikan petualangan belajar anak yang sesungguhnya dan mematikan kreatifitas anak.
Bagaimana ?
membaca deretan daftar diatas sudah mampu membuat sesak napas saat membacanya ?
jika iya, Sama !

Belum lagi masalah perundungan verbal, perundungan sosial, perundungan fisik dan labeling yang diterima anak semasa ia bersekolah.


Lelah dengan jenis pendidikan yang ada ? Merasa terhimpit dengan hiruk pikuk sekolah. Rutinitas sekolah, PR, ujian harian, hafalan rumus, duduk berjam-jam di kelas, semua ini terasa memuakkan ?

Tariik Napas panjaaaaang.
Dan saatnya untuk Deschooling !

Deschooling adalah Tahap pembebasan, tahap pemulihan dan tahap pengembalian kesenangan belajar pada anak. Tahap perubahan.

Simpan semua buku, lepas seragam sekolah. Dan lupakan semua yang berhubungan dengan sekolah. Saatnya menjelajah dunia baru.Pergi ketempat baru, membaca buku-buku yang jauh dari akademis, membaca komik, pergi ke museum, dan lakukan banyak hal menantang lainnya yang selama ini hanya ada dalam angan. Berpetualanglah secara nyata.

Saat ini juga saat yang tepat bagi orang tua dan anak untuk saling terbuka. Menerima pribadi masing-masing dan saling mendukung untuk bahagia. Biarkan anak untuk berinteraksi dengan orang baru, menekuni hobi baru, dan bersosialisasi dengan lingkungan baru.

Jadilah orangtua yang mendengarkan tanpa menilai, memperhatikan, menganalisa, dan melihat dari sudut pandang anak. Agar bonding yang terjalin semakin kuat.

Bagaimana caranya untuk mencari tahu pandangan anak ?
Mulailah dengan bertanya " Who do you want to be ?"
jangan bertanya "What do you want to be ?"

Trik mengetahui masa deschooling telah usai :
  1.  Menerima kebebasan belajar
  2. Menerima kebebasan memilih apa yang ingin dipelajari anak
  3. orang tua menerima setiap anak berbeda
  4. orang tua menerima pandangan anak
  5. orang tua menerima kegiatan di luar akademis sebagai bagian dari pendidikan rumah
  6. orang tua menerima cita-cita dan karir anak apapun itu
Jika sudah merasakan poin-poin diatas, selamat !
Anda bersiap untuk kembali bahagia.


Menurut penulis yang dirangkum dari sebuah buku, ada 3 dasar pendidikan rumah
  • Home Organized Schooling (ikut serta dalam lembaga pendidikan)
  • Conventional School at Home (Memindahkan sekolah ke rumah)
  • Nontraditional homeschooling (tidak berpatokan pada kurikulum, buku, kelas ataupun nilai)
dan unschooling berada dikelompok paling akhir.

Unschooling menitik beratkan pada pengalaman hidup anak. Belajar dari persoalan hidup secara nyata. Real life learnings.Dan menghargai setiap kemampuan anak. Mendukung dengan bahagia atas setiap pilihan anak. Tidak ada paksaan untuk ikut ujian, PKBM, harus memiliki ijazah, terdaftar dalam sebuah sekolah, NISN, rapor dan sejenisnya. Semua bertumpu pada keinginan anak. Bahkan kuliah bukanlah penutup wajib dari masa pendidikannya. Kuliah bukan lagi prioritas bagi anak. Benar-benar terlepas dari dunia akademis. Titik beratnya ada pada pilihan dan kebahagiaan anak. Menerima anak secara utuh. Tanpa menjajah anak dengan cita-cita dan keinginan orang tua yang dititipkan kepada anak.

Bagaimana dengan Sukses ?

Bagi pelaku unschooling, bukan gelar, karir di perusahaan raksasa dan harta berlimpah sebagaimana generasi orangtuanya dulu diinginkan. Tapi anak-anak yang dididik secara holistik justru akan mendapatkan kesuksesan yang holistik bagi dewasanya kelak.

Menjalani hidup sesuai dengan pilihannya, melakukan hal-hal bermakna dan membuat dampak positif bagi kehidupan manusia disekitarnya.

Sekolah konvensional dan gelar sarjana bukan satu-satunya jalan menuju sukses dan hidup bahagia

Bila unschooling dilakukan dengan benar, bersiaplah untuk mengalami transformasi besar dalam keluarga.

Sementara itu..


Tidak mungkin orangtua berperan jadi guru dalam proses unschooling anak-anak. Karena orang tua adalah Fasilitator, Rekan, mentor dan pelatih bagi anak.

Memfasilitasi terciptanya berbagai pengalaman hidup, membantu anak merefleksikan pengalaman harian anak. Menjadi rekan utama dalam mendampingi setiap langkah anak. Menjadi Mentor yang memiliki pengetahuan cukup, pengalaman dan kebijaksanaan. Dan terakhir menjadi pelatih yang membantu latihan, membuat strategi, mengukur taktik dan memberi dukungan moral bagi anak.


Buku ini mewakili curahan hati saya tentang sekolah. Yang kadang masih ragu saya ungkapkan. Kadang masih kelu dan tertahan di bibir atas semua pengakuan ini. Namun mba Inge, menuturkan secara jujur dan tidak melebih-lebihkan. Bisa jadi, tulisan dalam buku ini merupakan pengakuan tersembunyi yang dimiliki oleh orang tua dalam menyekolahkan anak. Pengakuan tentang pahitnya masa sekolah. Pengakuan dalam hati penolakan atas metode pendidikan konvensional ini

Dilembaran awal, bagian prakata mba Inge menuliskan "I Hope this book can help you break away from school mindset" harapan mba Inge ini terkabul setelah saya membaca secara menyeluruh tulisannya. Mencerna dan membayangkan kembali masa sekolah. Merasa satu frekuensi dengan di si Bungsu Dani, Pernah merasa diremehkan, merasa tidak berharga, merasa bodoh akibat labeling yang diberikan sekolah.

Jika kamu sedang mencari model pendidikan yang tepat untuk anak, buku ini layak untuk menjadi salah satu referensi.
Jika kamu adalah seorang guru, wajib membaca buku ini. Dengarlah hati orang tua dan anak dalam kisah buku ini.
JIka kamu adalah orangtua yang peduli pada pendidikan anak. Bukan orang tua dengan status quo. Maka mulailah membaca buku ini.

Ibarat sebuah film, alurnya berjalan lambat namun dialog dan jalan ceritanya tepat sasaran dihati.
Selamat membaca !

"School manufacture people who think that they are smart but they're not. School also manufacture people who think that they are dumb but they're not. Don't let school define who you are" Robert T Kiyosaki

Salam,
Share:

0 comments:

Post a Comment