Friday, July 3, 2020

Benarkah Sekolah Sudah Tidak Lagi Relevan dengan Anak Jaman Sekarang ?


Memilih metode pendidikan anak, membuat kami terus belajar. Terus menggali info, terus mencari jenis pendidikan yang tepat. Tidak pernah berhenti pada satu metode.

Berawal dari homescholing, kami terus menggali tentang makna sejati pendidikan bagi anak. Keputusan besar bahkan sudah dibuat oleh suami sejak meminang saya. Anak kami tidak akan sekolah formal. Mulai membaca sejarah pendidikan, sejarah sekolah hingga kami menemukan buku-buku John Holt "How Children Learn" dan "Teach Your Own" kami mulai bergeser ke arah unschooling.

Pencarian ini, sampai pada buku Unschooling oleh Inge Tumiwa-Bachrens. Karena ikut dalam kuota PO. Kami berkesempatan mengikuti Zoom Meeting "Meet and Chat With Inge Tumiwa". Penulis buku Unschooling "Journey From Conventional To Unschooling" The Organic free range education.

Saya kembali di segarkan oleh cerita perjalanannya mengenal unschooling untuk anak bungsunya, Daniella. Pemikiran kembali menguatkan kami akan pilihan Unschooling. Perjalanan kelas 1-12 Daniella di Sekolah Konvensional, tidak memberikan pengalaman yang membahagiakan. Hingga akhirnya memutuskan untuk berhenti sekolah konvensional. Mereka melakukan "deschooling" selama 8bulan. Dalam perjalanan inilah, mereka mantap memilih Unschooling.

Unschooling. Merdeka Dalam Belajar

Sebelum memutuskan unschooling, setidaknya Daniella sudah mencoba 3 jenis alternatif pendidikan :
  1. Sekolah kreatif
  2. komunitas belajar
  3. homeschooling
jadi keputusan unschooling bukan serta merta langsung mereka ambil sesaat setelah berhenti sekolah, Namun melalui proses yang panjang.

Bagian yang menariknya adalah, mereka merasa bahwa sekolah saat ini sudah tidak relevan lagi dengan kondisi anak jaman sekarang. Karena :
  1. Potensi positif pada jiwa anak, acapkali harus di sembunyikan demi 'fit in' dengan sekolah. seperti saat adu argumen guru dan murid. Sekolah memandang ini sebagai tindakan melawan guru. Padahal Arguing Is Healthy
  2. Sekolah saat ini orientasinya pada bisnis. Industri bisnis pendidikan. Jadi sekolah dibuat semenarik mungkin demi bisnis bukan karena kebutuhan anak. Seperti embel-embel "bisa CALISTUNG usia dini"
  3. Terbukanya informasi masa kini. Kemudahan akses ilmu yang ingin anak pelajari. Internet memungkinkan anak belajar pengetahuan baru dimana saja. Bahkan saat rebahan di kasur.
  4. Banyaknya guru yang tidak update. Meliputi pengetahuan, gaya penjelasan, dan teknik komunikasi. Tidak ada perbedaan dari tahun-tahun berlalu.
  5. Konsen sekolah hanya pada keberhasilan Jangka pendek. Seperti nilai, hafal rumus, dll hal ini menciptkan anak dangkal dalam berpikir
  6. Guru tidak lagi inspiratif. Bukan role model bagi siswanya
  7. Memihak pada kepentingan sekolah, abai pada kepentingan anak. Lupa membangun kreatifitas anak
Daftar ini akan terus bertambah sesuai dengan konsen yang dimiliki oleh masing-masing keluarga. Benar, bahwa tidak semua sekolah dan guru seperti pada poin yang saya sebutkan diatas. Namun familiar 'kah dengan keadaan seperti diatas ?

Ada Apa dengan Unschooling ?

Dalam dunia Unschooling, anak bertindak sebagai kepala sekolah pendidikannya. Ia bebas memilih apa yang akan ia pelajari, dengan metode apa dan dengan gaya apapun. Semua hak anak untuk menentukan keinginannya.

Biasanya, seorang anak akan mulai belajar tantangan hidup yang sebenarnya saat ia mulai memasuki dunia kerja. Artinya setelah ia mendapatkan ijazah. Bisa jadi Ijazah kuliah maupun ijazah SMA. Kenapa proses belajar anak harus ditentukan oleh selembar ijazah ?

Unschooling memungkin anak dibebaskan dari segala tuntutan. Alih-alih menuntut, unschooling menumbuhkan kesadaran dalam diri anak. Kesadaran akan pentingnya ilmu pengetahuan tanpa paksaan. Mereka diciptakan untuk menjadi pembelajar mandiri. Pembelajar yang paham dirinya ingin belajar apa, butuh cabang ilmu apa, bagaimana cara mendapatkan ilmu tersebut dan dengan apa ia mempelajarinya. Inilah pembelajar mandiri. Mereka tumbuh alami karena keingintahuannya bukan karena tuntutan dari luar.

Anak bebas menentukan jenis ilmu apa yang ingin ia pelajari tanpa ribet dengan patokan kurikulum. Tanpa tuntutan nilai dan rapor.

Apakah dengan begini anak tidak akan expert ?

Justru unschooling memberikan keleluasaan bagi anak untuk expert sejak dini. Jika ia minat pada video editing. Maka ia mulai fokus pada bidang ini. Belajar mengenal aplikasi pendukung dan software. Tidak ada yang bisa menghentikan mereka, tidak juga lonceng tanda pelajaran usai dan distraksi PR dari pelajaran lain yang tidak ia minati.

Gak punya Ijazah = Gak Dapat Kerjaan ?

Ukuran kemampuan anak Unschooling bukan pada ijazah yang ia miliki. Namun keahlian yang bisa dibuktikan. Mereka porfesional dibidangnya. Ahli !

Berita baiknya, perusahaan besar saat ini tidak lagi mempertanyakan "Lulusan mana ? Ijazahnya apa ?" Namun lebih kepada "Keahliannya apa? Tunjukkan !" contohnya seperti perusahaan Google, Apple dll

Mba Inge membocorkan kriteria yang ia cari saat mencari karyawan :

  1. keahlian
  2. karakter
  3. networking
  4. public speaking
  5. team work
People Need People ! Manusia butuh manusia.


Bagaimana Peran Orang Tua ?

Jika anak Unschooling terbiasa belajar secara mandiri, maka bagaimana peran orang tua ?
Orang tua berperan sebagai Partner, coach, temen diskusi dan fasilitator.

Jadi istilahnya orang tua berperan sebagai navigator. Kemudi tetap dikendalikan dan ditentukan oleh anak. Tujuan mana yang anak ingin capai, sepenuhnya adalah hak anak. Orang tua hanya sebagai kompas. Petunjuk arah, kalau-kalau anak tersesat atau terjebak dalam situasi antah berantah. Itulah peran orang tua. Membantu anak menemukan jalannya agar tidak tersesat.

Jadi pastikan kita sebagai navigator yang memiliki kemampuan cukup. Terus upgrade kemampuan diri menjadi orang tua. Agar anak percaya, bahwa kita tidak akan memberinya salah arah.

Karena sejatinya orang tua hanya berperan dalam menyiapkan anak untuk menjalani hidup dengan bahagia. Bukan mengejar cita-cita dan mewujudkan ambisi. Karena cita-cita anak bisa berubah, profesi yang akan ditekuni saat ini belum tentu relevan dengan kehidupan dewasanya kelak. Hidup terus bergerak maju. Profesi terus berubah sesuai kemajuan peradaban.

Dan satu hal yang perlu diingat " Bonding connection is more important than curriculum !"

Akhirnya sampai dipenghujung rangkuman. Saya akan mengutip kembali kata-kata mba Inge Tumiwa "Setiap keluarga merdeka dalam memilih jalur pendidikan keluarganya sesuai dengan core value dan budaya yang dianut"

Saya setuju sekali !
Jalur unschooling masih asing bagi masyarakat.
maka pastikan kita tidak menghakimi metode pendidikan yang dipilih oleh keluarga lain.

Ahh.
Rasanya tidak sabar membaca buku secara utuh "Unschooling" karya Inge Tumiwa. Pasti lebih menyegarkan pemikiran dari ini.

Jadi, Adakah yang sependapat ?
Bahwa sekolah sudah tidak relevan lagi saat ini ?

Salam,
Share:

2 comments: