Wednesday, June 24, 2020

,

Momen Lebaran di Tengah Pandemi Covid-19


Rasanya baru kali ini saya merasakan lebaran yang begitu sepi. Bahkan kue-kue khas lebaran tidak terhidang di meja. Sanak saudara yang akrab dijumpai, juga hanya bisa di sapa melalui layar HP.

inilah, kisah lebaran kami di tengah Pandemi Covid-19.

Kondisi Normal

Lebaran Idul Fitri adalah perayaan besar umat Islam. Tidak ada yang tidak bersukacita di momen ini. Berbagi makanan, berbagi ampau, berbagi foto dan saling mengunjungi adalah kegiatan rutin yang tidak mungkin di hilangkan dari lebaran.

Selama 30th, inilah lebaran yang saya jalani.

Menu ketupat, opor, rendang, sambel goreng dan kerupuk pasti akan hadir di meja makan. Belum lagi kue-kue nikmat penghasil lemak. Nastar, puteri salju, sagu keju dan banyak jenis kue kering yang pas hadir di setiap toples. Tidak pernah absen kue kering ini menghiasi masa lebaran kami.

Anak-anak bersuka cita, mendapat uang ampau yang kemudian nanti mereka bebas belanja apapun. Mendadak akrab dan melepas rindu dengan keluarga besar, sahabat dan rekan kerja. Semua bertemu dan saling menyapa. Indah dan akrab !

Lebaran penuh kebahagiaan, penuh makanan dan tentu saja baju baru. Bahkan biasanya lebih dari satu stel baju baru. Belum lagi aksesoris yang biasanya serba baru. Benar, saat momen lebaran perputaran uang sangat cepat. Lebaran identik dengan semua serba baru.


kondisi ini hampir terjadi di setiap keluarga Indonesia. Hingga virus corona menyerang dan di nyatakan sebagai kasus Pandemi.

Lebaran dalam Kondisi Pandemi Covid-19

Tidak pernah terbayangkan oleh kami, lebaran hanya berdiam diri di rumah. Bahkan kue saja tidak ada yang menghiasi meja kami. Kami memutuskan untuk berlebaran apa adanya dan sesederhana mungkin.

Situasi jauh berbeda :
  1. Tidak ada satupun dari kami yang memakai baju baru. Baik saya, suami dan anak-anak
  2. Tidak membeli kue kering. Suami dan anak-anak tidak menyukai kue-kue'an. Makanan manis jarang laku. Tipe orang yang jarang ngemil, kecuali saya. Dari pada nanti saya yang makin bulat karena terus makan kue kering, saya memutuskan tidak membeli kue kering.
  3. Tidak masak opor, rendang dan ketupat. Alhamdulillah, Ibu mertua dan Mama membagi menu lebarannya dengan kami. Tetap dapat menikmati opor Ayam kampung, Ayam kampung goreng khas mertua, rendang dan ketupat
  4. Sholat Idul Fitri di rumah. Sesuai dengan anjuran pemerintah.
  5. Mengirim hampers kepada para ponakan sebagai ganti pertemuan yang terhalang. Dan silaturahim melalui video call
  6. Tidak ada kunjungan dari tetangga maupun mengunjungi.
  7. Lebih banyak menghemat pengeluaran.
Dalam situasi lebaran seperti itu, rasanya tidak ada perbedaan antara lebaran dengan hari biasa. Bahkan setelah Sholat Idul Fitri dan makan ketupat bersama, kami langsung ganti baju rumahan dan bermain bersama anak-anak seperti hari biasa. Sama sekali tidak keluar rumah.


Lebaran yang Berbeda, Namun Penuh Makna

Siapa sangka, jika lebaran kali ini kami sekeluarga benar-benar bisa menghemat uang. Pengeluaran-pengeluaran konsumtif yang biasanya sering terjadi setiap lebaran bisa ditekan. THR yang suami dapatkan, kami putar kembali untuk membeli barang-barang rentalan kami. Tentu setelah dikurangi zakat dan sedekah.

Kemudian saya menyadari, bahwa tidak ada gunanya barang-barang branded dan gaya hidup mewah. Saat ada musibah dunia seperti ini. PHK dimana-mana, bahan makanan langka, kebutuhan harian semakin sulit didapat. Hal yang kita butuhkan adalah mampu makan seperlunya.

Banyak dari keluarga Indonesia yang kemudian usahanya kolap, orang-orang hilang mata pencaharian, tabungan terus tergerus dan kesulitan-kesulitan lainnya yang tidak pernah terpikirkan. Namun hasilnya, kita bisa bertahan tanpa hiburan di Mall. Bisa tetap di rumah dan berbelanja melalui online. Bisa tetap menonton film walau bukan di bioskop dan bisa bekerja walau hanya dari dalam rumah.

Ternyata kita kreatif dalam menyiasati kebuntuan. Tidak ada cobaan yang tidak mampu kita lalui. Kuncinya hanya ada pada Hidup seperlunya.

Berapa banyak IRT yang kemudian makin mahir memasak karena terpaksa di rumah dan was-was membeli makanan diluar. Berapa banyak dari kita kemudian menemukan passion baru. berapa banyak dari anak muda yang kemudian terbesit jenis usaha baru. Belanja ke pasar tradisional bisa online, belanja kebutuhan pokok di supermarket besar hanya butuh WhatsApp, dan industri food and beverage memberikan pilihan frozen food agar restaurannya tetap beroperasi.

Dan satu hal yang membuat hati meleleh, rasa persaudaraan kita meningkat !
Banyak dari kita kemudian gotong royong membantu masyarakat. Berbagi sembako, berbagi sedekah, saling menguatkan dan melariskan dagangan teman. Kita saling support !

Masyallah.

Dari sekian banyak kesulitan,
Manusia menunjukkan kemudahan-kemudahan yang tercipta karena kita solid.

Dan benar,
untuk pertama kalinya dalam sejarah "Bersatu kita Runtuh. Berjarak kita Selamat"

Semoga Covid-19 segera berlalu,
Wahai Alam, Kami rindu berlarian di lapangan terbuka bersama teman-teman

Salam,
Share:

2 comments: