Monday, December 9, 2019

Memilih Metode Pendidikan Anak Secara Sadar


Homeschooling atau sekolah rumah adalah pilihan pendidikan bagi anak yang tak bertepi. Pendidikan yang seumur hidupnya terus berkelanjutan dengan berpartnerkan orang tuanya. Tak mengenal lulusan, tak mengenal angkatan. Maka menjalaninya pun penuh resiko. Baik resiko bahagia maupun resiko keruwetan bagi para pelakunya.

Saya ingin menuliskan, homeschooling dalam sudut pandang saya dan keluarga saya. Bahwa kami memilihnya jalan ini secara sadar. Dan inilah opini saya.

Bukan Follower

Jaman media sosial ini penuh dengan kamuflase. Jika tidak jeli melihat, kita tidak tau warna aslinya. Semua tampak indah. Semudah capture yang dihasilkan. Asal komposisinya pas, maka jadilah indah dipandang. Di-like ribuan orang, di share puluhan kali bahkan ada yang di save sebagai panutan di kemudian hari.

Nampak sempurna
Anak yang cerdas, kegiatan anak yang penuh gairah, menjalani hari penuh permainan edukatif, dan prestasi-prestasi yang disematkan orangtuanya dengan mudah kita baca dan dalam diam kita kagumi. Semuanya tampak sempurna. Sesuai dengan persepsi idealis orangtua milenial saat ini.

Tanpa kita tahu, bahwa dia jungkir balik menjalaninya. Bahwa dia telah membaca ratusan lembar halaman buku demi mencari formula yang tepat untuk keluarganya. Bahwa dia sudah kenyang dengan trial-error yang ia alami. Atau sudah berapa puluh pasang keluarga yang ia cermati kemudian adaptasi. Kita tidak pernah tahu. Karena proses yang ia jalani tidak ia bagikan pada dunia.

Maka akan menjadi hal yang bodoh jika kemudian kita memutuskan mengikuti jejak prestasi keluarga lain.  Tanpa berpikir, cocok tidak dengan visi pendidikan keluarga kita ? cocokkah dengan kepribadian kita ? Bisakah anak-anak menerima ? Bahagia kah anak-anak dengan keputusan yang kita ambil ?  Bahagiakah kita sekeluarga dalam menjalaninya ?

Apakah jalan ini benar-benar yang kita cari selama ini ?

Maka janganlah jadi follower. Pengikut sebuah keluarga. Menjadikan prestasi keluarga lain menjadi acuan. Karena kita akan kelelahan. Dan belum tentu kita mampu menciptakan prestasi seperti keluarga panutan kita dapatkan. Bisa jadi kita adalah contoh gagalnya, dan dia adalah contoh suksesnya. Siapa yang tau ?

Latah Dalam Mengambil Keputusan

Kecemasan itu menular, begitupun semangat. Saat kita mengutarakan kecemasan kita tentang ketidak-konsisten-an kurikulum pendidikan Indonesia, maka percikan kecemasan ini akan menular. Melihat keluarga homeschooling yang berhasil kuliah di universitas luar negeri,semangat membuncah ingin menggapainya. Tanpa peduli, apakah anak kita memang butuh dan berkeinginan sama dengan orang tuanya.

Lain hal saat melihat keluarga Homeschooler (HSer) lainnya memiliki prestasi akademik yang baik, kita latah untuk men-support anak kita melakukan hal sama.  Atau saat melihat keluarga HSer memiliki kegiatan yang menyenangkan, traveling keliling Indonesia atau menjelajah alam sejak dini, kita pun latah mengikuti kegiatan ini. Tanpa memikirkan fisik yang harus di persiapakan, keuangan yang matang dan sebagainya.

Apakah proses perjalanan seperti ini yang ingin kita tempuh ? Jika iya, makanya kita akan sangat KELELAHAN. Mengikuti standar keluarga lain tanpa memperhitungkan kemampuan diri dan visi keluarga adalah sebuah kebodohan.

Biasnya Visi Pendidikan Keluarga

Yang ingin saya sampaikan adalah, memilihlah secara sadar. Sadar bahwa memang homeschooling adalah kebutuhan pendidikan anak-anak kita. Sadar bahwa metode Homeschooling adalah jalan pendekatan yang paling tepat untuk pendidikan anak-anak kita.

Jika sudah memilih secara sadar, maka kita tidak akan mudah terpicu dalam polemik :
"Bagusan Homeschooling atau Sekolah formal ?
"Ijazah atau portofolio ?
"Homeschooling atau Unschooling ?"

Karena setiap pilihan yang telah kita pilih, kita paham konsekuensinya. Kita pilih secara sadar dengan segala resiko yang dihasilkan atas keputusan kita.

Kita menjalani dengan penuh syukur, menikmati, tidak stress, tidak menekan proses apapun pada anak dan bahagia. Tentu hal ini yang kita idam-idamkan bersama.

Memiliki visi pendidikan akan sangat membantu kita dalam menentukan arah pendidikan anak-anak. Dan tidak melulu homeschooling, bisa jadi pilihan bersekolah formal adalah pilihan terbaik bagi anak-anak kita. Maka langkah utama dalam menentukan pendidikan anak-anak adalah menentukan visi pendidikan keluarga. Dan langkah selanjutnya adalah hormati pilihan jalur pendidikan keluarga lain.


Semoga apa yang saya tulis bermanfaat.
Tulisan ini saya buat saat hati saya resah ketika melihat kegamangan sebuah keluarga dalam mengambil keputusan akibat mengikuti tren :(


Salam,
Share:

1 comment:

  1. These machines have to be robust since they're typically used to chop metallic, stone and equally tough substances, and therefore require sturdy elements themselves, which have a high price tag. Computer Numerical Control machining is a producing process during which a pre-programmed laptop software program directs the movement of factory machinery and instruments. CNC machining can control a variety of|quite lots of|a wide range of} complex machinery, from mills and routers to grinders and lathes. Using CNC machining permits three-dimensional slicing tasks to be achieved with a single set of prompts. This process has become well-liked outcome of|as a result of} Portable Washers there isn't a|there isn't any} want for a reside operator to push levers, buttons or wheels. Once a CNC machine has been activated, the cuts are programmed into the software program and then communicated to the instruments and machinery which carry out the task.

    ReplyDelete