Tuesday, September 10, 2019

Ulasan Buku Ibuk #4 : Mantappu Jiwa, Buku Latihan per-Soal-an Hidup


mantappu jiwa




Buku : Buku Latihan Soal MANTAPPU JIWA
Penulis : Jerome Polin Sijabat
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Hal : 224 hal,; 20cm

Siapa Jerome ?

Kenapa dia akhir-akhir ini begitu nge-hits dikalangan anak muda ?
Siapakah gerangan anak ini ?

Ternyata dia anak muda istimewa, anak muda yang mengaku jomblo sejak embrio. Prestasi nih !

Jika bukan karena impiannya, bisa jadi Jerome hanyalah anak muda biasa yang tidak dikenal oleh banyak orang. Impiannya juga yang membuat saya ingin segera membaca buku ini.

secara ringkas, buku ini memaparkan perjuangannya untuk mendapatkan beasiswa penuh di Jepang.
Namanya juga perjuangan, gak sah kalau tidak ada dramanya. Hahahaha

Impiannya dimulai saat ia berhasil masuk sekolah anak-anak horang kayah. Bukan, Jerome bukan bagian dari Crazy Rich Surabayan walau dia tinggal di Surabaya. Namun berhasil masuk ke sekolah elit karena mendapat potongan untuk biaya sekolahnya. Ia berasal dari keluarga sederhana, impiannya yang membuat dia istimewa. Ceritanya inilah kemudian menjadi pesona anak-anak muda yang juga ingin mengikuti jejaknya. Mendapat beasiswa full dan pintar matematika adalah daya tarik dirinya. Ganteng ? hmm.. bolehlah.

Sejak SMP, Jerome sudah rajin riset tentang beasiswa penuh S1. Ia harus kuliah di Luar Negeri, tekadnya. Bidikannya adalah NTU (Nanyang Technological University) dan NUS (National University Singapore). Tapi apakah dia berhasil tembus disini ? baca sendiri ya bukunya. hahahaha

Sebenarnya, Jerome mendapat free pass beberapa universitas Indonesia. Bahkan sekelas ITB dan  ITS. Ada pula yang menawarinya beasiswa penuh. Namun sekali lagi, impiannya adalah mendapat beasiswa penuh di luar negeri.

Berbagai tes ujian untuk mendapatkan beasiswa penuh ia ikuti. Beberapa kali juga dia merasa kecut sendiri melihat saingannya, Salah rumus, di tolak beasiswa penuhnya, gagal ikut tes adalah ritme yang harus ia jalani sebelum berhasil masuk WASEDA  University Jepang.

Berakhir di Jepang

Akhirnya perjalanan berakhir di beasiswa mitsui bussan. Setelah mendapatkan beasiswa ini, bukan serta merta kehidupan Jerome terlepas dari berbagai tes. Babak baru yang lebih seru baru saja dimulai. Ia harus menguasai bahasa Jepang berikut dengan tulisannya. Duh, aku bayangin aja udah mumet. Pembekalan bahasa Jepang selama 1 bulan di Indonesia ternyata tidak ada apa-apanya di banding dengan bahasa Jepang sesungguhnya di negara asalnya. Namun hebatnya, Jerome malah mampu menjuarai pidato bahasa Jepang hanya dalam waktu 5 bulan proses belajarnya di Jepang. Ternyata saingannya saat itu sudah tahunan belajar bahasa Jepang. 5 bulan dan dia menang lomba Pidato bahasa Jepang ? mungkin ini padanan yang tepat untuk kalimat yang sering ia ucapkan "MANTAPPU JIWAA !!!!"

Apakah Jerome anak jenius super  cerdas berIQ setara Einstein ? jawabannya sungguh membuat saya malu. Ia berkata, kemampuannya dalam mengerjakan soal-soal itu berasal dari latihan-latihan yang telah ia bangun sejak bertahun-tahun. Jleb !

Dalam bukunya dia memaparkan jadwalnya :

09.00-16.00 : Sekolah
16.00-19.00 : Belajar di Perpustakaan
19.00-20.00 : Masak dan makan malam
20.00-21.00 : Belajar lagi di perpustakaan
21.00-23.00 : Belajar lagi antara kamar atau lobi
23.00-24.00 : Mandi, istirahat, buka sosial media
24.00-02.00 : Belajar lagi

bisa dipahami ya, bagaimana dia meraih keberhasilan saat ini. Kerja keras, cuy !

Cita-Citanya ingin menjadi Menteri Pendidikan

Daya tarik lain dari seorang Jerome adalah kemauannya untuk memikirkan kemajuan negaranya. Ia tidak egois. Dia sadar diri akan potensinya. Maka ia bercita-cita akan menjadi Menteri Pendidikan. Langkah awalnya, saat lulus kuliah dia akan membangun sekolahnya sendiri. Cita-citanya inilah yang kemudian dia paparkan di akun channel youtube-nya dan kemudian viral hingga diundang oleh Hitam Putih. Jika Aku Menjadi Menteri Pendidikan  judul videonya. Pemikirannya ini berawal dari sebuah hadiah perlombaan game senilai ratusan juta, yang menurut dia jauh berbeda dengan hadiah lomba olimpiade yang hanya sekitar tujuh juta itu pun dibagi-bagi lagi dengan timnya. Dari sinilah opininya berkembang dan menjadi viral.

Saat wawancara untuk masuk Waseda University, dia juga memaparkan cita-citanya ini. Cita-cita yang membuat sumringah bagi siapapun yang mendengarnya.

Bagi Saya Buku ini adalah..

Buku ini adalah bukti nyata sebuah mimpi yang di lengkapi dengan kerja keras. Maka tidak ada yang tidak mungkin. Terlebih jika kita melibat Alloh saat melakukannya. Jika Jerome menuliskan "Belum tentu Roma yang aku tuju adalah Roma "terbaik" yang Tuhan sediakan buatku" kalau versi saya "..Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaannya diri mereka sendiri.." ( QS Ar-Ra'd : 11)

mantappu jiwa
rumus jerome


Beberapa kali saya dibuat tertegun dengan ketekadan, kerja keras dan disiplin diri Jerome. Anak ini seolah punya kontrol diri yang kuat. Motivasi yang besar dan menyukai tantangan.

Pertanyaan yang terus berputar diotak saya : Bagaimana membuat anak menjadi pembelajar mandiri seperti ini ??

Bayangkan, dia belajar bahasa Jepang dalam waktu singkat dan berhasil melampaui kemampuan guru-guru bahasa Jepang yang pernah mengajarnya. Motivasinya satu : Ia ingin mengerti becandaan teman-temannya dalam bahasa Jepang.

Bahkan kuliah di Luar negeri di hasilkan dari keinginannya untuk bisa berkunjung ke Disneyland. Ia berpikir, jika sudah di luar negeri maka tentu mudah baginya untuk bisa ke Disneyland.

Bagaimana hal-hal sederhana seperti ini mampu membangkitkan semangatnya tak kenal lelah dan konsisten ? Saya sedang mencari jawaban ini. 

Dalam ceritanya, saya mulai mengenal cara Ibunya Jerome mendidik anak-anaknya. Saat Jerome minta masuk les Kumon, ibunya menyodorkan soal-soal matematika dan bersiap menjadi guru les bagi Jerome. Mahalnya biaya les di Kumon membuat ibunya berpikir subtitusi sepadan dengan Kumon. Hasilnya benar saja, Jerome mampu bersaing dengan anak-anak yang les di Kumon.

Baca juga : Anak bukan kertas kosong

Saat ia merasa putus asa, minder dan berkecil hati ibunya berkata " Kamu sama dengan yang lain. Fokus pada ujian yang tertulis di kertas. Bukan orang yang ikut ujian" (btw redaksi tepatnya aku lupa, cari-cari dibukunya gak nemu jadi ku ketik seingatku. Hahaha. Kalau tau, bantu aku ralat ya")

Sebagai ibu, satu hal yang aku pelajari dari cara Ibunya Jerome mendidik Jerome. Keterbatasan  terkadang justru mampu melejitkan potensi anak !

Oh iya, saya sempat kecewa saat buku ini tidak ada di Gramedia Batam (Semoga sekarang sudah ada ya) kemudian langsung membeli online. Syukur bukunya cepat sampai. Saya membaca buku ini hanya 2 jam di sela tidur siang anak-anak.

Bukunya enak banget dibaca. Seru !
Membuat saya ingin terus membuka lembar demi lembarnya hingga lembaran terakhir.

Selamat membaca :)

Share:

3 comments:

  1. luar biasa kerja kerasnya, dan yang lebih penting dia percaya diri

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener mas. Aku lupa poin itu. Dia emang percaya diri sekali klo gk mau disebut narsis. Dan itu lucu. Hahaha

      Delete
  2. Langsung aku searching nih si Jarome

    ReplyDelete