Wednesday, March 27, 2019

Homeschooling Tanpa Persetujuan Suami, Bisakah ?

homeschooling


Orang tua milenial makin melek parenting. Ilmu pendidikan tentang dunia anak, dan mudahnya mengakses berbagai informasi menjadikan Homeschooling cepat menyebar dan menjadi alternatif pendidikan selain sekolah formal.

Saat ini, HS sudah makin sering di dengar. Walau belum banyak yang mempercayakan sistem pendidikan anaknya pada jalur HS namun perlahan HS mulai berkembang. HS seolah menjadi jawaban atas kegundahan sistem pendidikan saat ini. Bukan menyepelekan sekolah atau menganggap sekolah tidak penting, namun HS dianggap solusi bagi sebagian keluarga dalam proses menumbuhkan fitrah anak. Pendekatan belajar HS yang menganut "Meninggikan gunung, meratakan lembah" di nilai mampu menjaga nilai-nilai fitrah yang tertanam dalam jiwa anak. Karena bagi keluarga HS, anak bukanlah kertas kosong.

Isu ini kemudian berkembang, banyak para Ibu yang rela kembali ke rumah dan melupakan karir demi mendampingi anaknya untuk HS. Para ibu, semakin tidak rela melewatkan begitu saja perkembangan anaknya. Karena tidak ada pengulangan dalam mendidik anak, sekali gagal maka akan sulit untuk kembali membentuk jiwa anak.

Seminar parenting makin beragam jenis. Tema-tema yang ditawarkan seolah menjadi jawaban atas setiap kegelisahan ibu. Mulai dari seminar tatap muka langsung, ada pula webinar dan kuliah WhatsApp (Kulwa) menjadi pilihan yang dengan mudah di akses oleh para ibu. Lalu dimanakah peran Ayah ? Disinilah kadang konflik mulai muncul.

Semakin giatnya ibu menggali ilmu parenting, kadang tidak di imbangi semangatnya sang Ayah dalam mengenal dunia parenting. Sering kali kasus yang ditemukan adalah beda pandangan sistem pendidikan yang dianut antar pasangan. Jika istri menganut sistem pendidikan HS, maka suami tidak yakin akan keberhasilan HS untuk pendidikan anaknya. Padahal dalam dunia HS, Ayah adalah kepala sekolah dan Ibu adalah guru. Bagaimana sebuah sekolah dapat berlangsung jika tanpa kepala sekolah ?

Ada pula suami yang mempercayakan 100% pendidikan anaknya pada istri. Pokoknya suami hanya bertugas mencari uang, dan istrilah yang bertanggungjawab penuh atas pendidikan anak. Bisakah seperti ini ?

Sayangnya dalam dunia HS tidak ada kepastian seperti didalam dunia sekolah. Hitungan waktu sudah jelas dan pelajaran yang akan dipelajari anak sudah pasti. Misalnya anak SD hanya akan menempuh pendidikan sekolah selama 6 tahun dengan mata pejaran yang sudah ditentukan. Dalam dunia HS, sepenuhnya pelajaran dan materi yang akan dikembangkan disesuaikan dengan anak. Inilah mengapa tidak ada formula yang tepat untuk setiap keluarga HS. Bisa jadi formula XYZ cocok untuk keluarga A namun belum tentu cocok untuk keluarga B. Semua tergantung pada Visi Pendidikan yang dianut keluarga..+

Beratnya perjalanan HS ini membuat kesepakatan untuk HS tidak boleh disetujui oleh satu pihak saja. Ayah dan Ibu harus kompak. Siap menanggung resiko bersama, siap tumbuh bersama, siap belajar bersama untuk menemukan formula yang tepat untuk diterapkan dalam keluarga.

Jadi, pertanyaan bisakah homeschooling tanpa persetujuan ayah ? Hanya ibu saja yang setuju atau sebaliknya ? jawabannya adalah TIDAK.

Resiko terlalu besar jika hanya dihadapi oleh Ibu saja. Sewaktu-waktu ketidaksetujuan atas pemilihan sistem pendidikan anak akan meledak ibarat bom waktu. HS butuh supporting system. Butuh didukung oleh pasangan. Butuh kekompakkan. Tidak bisa dijalani seorang diri.

Bukankah setiap sekolah sudah pasti memiliki kepala sekolah ?

Lalu bagaimana caranya agar melibatkan suami atau pasangan dalam pendidikan anak ? Berikut tips sederhana dari saya :
  1. Tentukan Visi Pendidikan Keluarga
    Diskusikan dengan suami. Apa yang menjadi tujuan keluarga. Kearah mana bahtera rumah tangga ini dibawa. Jika sudah memiliki Visi maka tentukan langkah-langkah yang ingin dicapai.
  2. Utarakan mimpi tentang masa depan anak.
    Katakan pada suami, tentang mimpi yang ingin dibangun. Lengkap dengan alasannya. Jangan lupa libatkan anak juga. Apakah mimpi kita sudah sesuai dengan minat dan bakat anak.
  3. Kumpulkan artikel penunjang tentang HS.
    Ceritakan dan tunjukkan kisah-kisah anak HS yang mampu sukses dengan jalur HS. Ceritakan prosesnya. Ceritakan keterlibatan orang tuanya dalam mendampingi anaknya untuk sukses.
  4. Gabung di Komunitas
    Bergabung pada komunitas yang sesuai dengan misi keluarga. Libatkan suami untuk berperan dan mengenal komunitas yang kita pilih. Ceritakan kelebihan komunitas dan alasan mengapa harus bergabung dikomunitas tersebut.
  5. Jangan Berkecil Hati
    Jangan sedih dan menyerah ! perbedaan pemikiran adalah sesuatu yang lumrah. Setiap ayah pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Hanya saja belum memiliki jalur yang sama. Pertimbangkan alasan suami mengapa ia tidak setuju. Kadang kala pemikiran laki-laki lebih rasional. Dengarkan alasan suami, bisa jadi memang kemampuan kita yang belum dianggap pantas oleh suami untuk menjadi guru anak-anaknya. Maka sudah saatnya membuktkan diri. Bahwa kita siap menjadi fasilitator anak-anaknya dalam berkembang.
Menjalani dunia HS adalah perjalanan yang panjang dan tidak akan pernah selesai seumur hidup anak. Maka butuh bagi kita bergandengan tangan bersama pasangan. Saling menguatkan dan membagi tugas. Karena sejatinya pendidikan anak-anak adalah tanggung jawab bersama.

Salam,
Share:

1 comment:

  1. Aduh mbak, seneng banget ketemu blog bahas tentang parenting kaya gini!

    Kalau ingin belajar seputar Homeschooling, ada rekomendasi mulai dari mana kah mbak?
    Misalnya dari buku apa dulu atau ada blog lain yg bagus pembahasan HS-nya? Supaya mindset-nya untuk memandang HS bisa tepat.

    Aku & suamiku sebenarnya tertarik dengan HS karena rasanya lebih bisa "memanusiakan" anak daripada sekolah umumnya. Tapi rada2 takut juga soalnya memang terbilang "out of the box" untuk orang biasa.


    Oiya, semangat terus sharing tentang pendidikan anak ya, mbak! :)

    ReplyDelete