Saturday, October 20, 2018

,

Mempersiapkan Anak Pertama Menjadi Kakak



Menambah anggota keluarga baru bukan hal yang mudah. Walaupun ini membahagiakan, namun tidak untuk anak sulung. Bertahun-tahun dia pemenang hati ayah-ibunya. Dialah pengisi penuh hati ibunya. Segala perhatian 100% ia miliki. Kehadiran adik, kadang kala membuat ia menolak. Dan seringnya penolakan ini disebabkan oleh sikap orang dewasa.

Pernah suatu ketika, saya mendengar ucapan " Hayo, udah mau punya adek ya ? Nanti gak di sayang ibuk lagi loh !" kalimat konyol ini sering dilepaskan dari mulut orang dewasa tanpa memikirkan dampaknya. Terlihat sepele, namun lihatlah hasilnya. Akan ada pertanyaan yang muncul dari diri anak "Kalau aku punya adik, nanti gak disayang ibu ya ?" pertanyaan ini adalah awal dari sikap penolakannya terhadap adiknya.

Namun di lubuk hati saya pun, saya masih mempertanyakan sikap adil saya kelak. Kadang saya bertanya pada suami "Gimana nanti kalau anak kedua udah lahir ya ? Gimana bersikap adil ? kalau dalam keadaan bahaya, siapa duluan yang dibantu" kemudian suami menjelaskan, bahwa adil itu bukan sama rata. Namun memberikan porsi tepat sesuai kebutuhannya.

Jauh sebelum adiknya lahir, saya sudah menebar benih positif pada Khalid. Agar ia tidak shock, tiba-tiba ada bayi yang satu kamar dengan dia. Ada bayi yang harus ibunya susui, ada bayi yang harus digendong untuk ditenangkan.

Baca juga : 10 Keluhan Yang Sering Terjadi Pada Ibu Hamil

Bukan hal yang mudah. Untuk awalnya, Khalid menolak dipanggil Abang. Bahkan kami memberi pilihan mau dipanggil apa. Abang, Kakak, Mas atau siapa ? Namun semuanya di tolak Khalid. Ia merasa abang-abang itu adalah teman bermain dia yang diluar rumah. Bukan dirinya. Masih sulit memberi penjelasan bahwa ia akan segera menjadi abang.

Untuk mempersiapkan Khalid menjadi Abang, kami melakukan hal ini :


  1. Selalu mengajak dia saat kontrol ke Dokter
    Khalid selalu antusias saat masuk keruang dokter dan  melihat di layar komputer saat dokter melakukan USG. Ia akan bertanya "Itu Adek Khalid ?" tentu saja dia akan protes. Kenapa adiknya gelap. Kenapa adiknya hanya berbentuk bulat dll. Namun kami jelaskan bahwa adiknya lama-lama akan besar sama seperti Khalid.

  2. Ajak Ngobrol Dengan Adiknya yang di Perut
    Saya sering menjelaskan bahwa di dalam perut ada adiknya. Kadang kami melakukan tanya jawab seperti "Adik mau makan ?" "Adik tidak suka kalau mendengar abang berisik ?" kemudian dia akan menjawab dengan suara dibuat-buat kecil "iya". Interaksi ini mengenalkan bahwa Adiknya memiliki rasa dan harus di jaga. Menjelaskan keberadaan Adiknya juga membuat dia hati-hati saat bermain di dekat ibunya. Perut ibunya harus dijaga.

  3. Jelaskan Kebutuhan Bayi akan Ibunya
    Kadang saya ajak Khalid merasakan gerakan adiknya dari dalam perut. Dia akan keheranan dan berteriak "Adik tendang-tendang ! Ibuk tidak sakit kalau adik tendang-tendang perut ibuk ?" pertanyaan Khalid kadang membuat saya tertawa geli. Namun hati-hati dalam menjawabnya. Merasakan dan berinteraksi langsung dengan adiknya menguatkan hubungan mereka. Saya sering mengatakan kalau nanti adiknya suka disayang, adiknya kecil dan lemah jadi harus dijaga, adiknya butuh ASI dari payudara ibunya. Maka dia sering sekali memeluk dan mencium perut saya sambil berkata "Lama sekali adik keluarnya" atau "Nanti Khalid jagain Adik kan, Buk ?" Saya berusaha membangun jiwa seorang abang untuk melindungi adiknya.

  4. Perlakukan Penuh Cinta
    Alhamdulillah, Khalid tidak pernah menanyakan cinta yang saya berikan. Rasanya juga dia tidak merasa terancam kehilangan cinta ketika adiknya hadir. Namun tetap, saya sering mengatakan "I love You" atau "Ibuk Sayang Khalid" yang akan dijawab dia dengan "Thankyou Ibuk " Sambil balas mencium saya. Kadang gantian dia yang mengatakan "I love Ibuk" Khalid masih sering memeluk saya terutama lengan. Dia menyukai lengan saya. Sering dipeluk-peluk dan di ciumnya lengan saya. Bahkan untuk tidur dia lebih sering memilih memeluk saya dari pada ayahnya. Momen seperti ini saya sering berkata, saat adiknya lahir Khalid boleh peluk-peluk ayah juga ya. Sekarang peluk ibuk dulu karena nanti ibuk akan menyusui adiknya. Maka ia akan paham, bahwa ayahnya juga bersedia untuk di peluk.

  5. Libatkan Ia Dalam Memilih Kebutuhan Adiknya
    Berikan wewenang bagi si Abang untuk berperan dalam menyambut adiknya. Tanyakan dengan sengaja akan pilihan suatu barang. Misal warna atau jenis baju yang ia suka untuk adiknya. Begitupun untuk mainan atau barang yang akan dibelikan untuk dia. Saya sering bertanya "Adik dibelikan juga gak ?" nanti dia akan menjawab "Adiknya kan masih diperut Ibuk" sengaja saya bertanya agar dia tidak melupakan bahwa akan ada adiknya yang kelak menemani dan bermain bersama.

  6. Menyiapkan Kemandirian Si Abang
    Perlahan saya mulai mengajarinya menggunakan celana sendiri, makan sendiri, mengambil minum sendiri. Walau belum sepenuhnya berhasil. Bahkan kadang ditolak oleh anaknya saat diminta melakukan sendiri. Namun saya percaya, bahwa Khalid semakin besar semakin mandiri. Tidak lupa saya ucapkan bahwa Khalid sudah besar, sudah mampu melakukan ini dan itu. Agar percaya dirinya timbul. Dan mengapresiasi jika ia mau melakukan kebutuhannya dengan sendiri.

  7. Tunjukkan Foto-Foto Masa Kecilnya
    Saya sering menunjukkan foto-foto bayinya dan menjelaskan aktifitas yang sedang ia lakukan. Ini bertujuan bahwa dia pun pernah bayi. Dia dulu diperlakukan sama dengan adiknya. Dia dulu di susui dengan penuh cinta. Maka saat menunjukkan fotonya semasa bayi, saya sambil menjelaskan bahwa adik kecilnya akan seperti ini juga. Akan berada di fase menyusui, gendong, merangkak dll.
itulah tips yang mampu saya berikan. Jadi sekarang Khalid sering bertanya "Kapan Adik lahir ?" "Nanti kalau Adik baby lahir, Khalid boleh sayang-sayang ? Khalid boleh gendong " rasanya pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Khalid adalah sebuah indikasi bahwa ia siap menjadi abang. Bahwa ia pun menanti kehadiran adiknya dengan gembira.

Saya akui, semasa hamil tingkat kemandiriannya turun dan menjadi semakin manja. Saya pun mudah terpancing emosi. Saat mainannya berserakan, saat ia memainkan tanah taman, saat ia menyobek-nyobek kertas dan menghamburkannya emosi saya terpancing. Kemudian suami berkata "Jangan emosi, untuk apa ? emosi gak emosi kan tetep aja nanti harus dibereskan ? tenaga udah habis, emosi terkuras. Kalau capek, biar Ayah yang membereskan"

Baca Juga : Pekan Asi Sedunia : Derita Dalam Mengasihi

Benar juga, emosi hanya akan memperburuk perasaan. Biasanya kalau emosi saya sering merasakan keluhan kehamilan. Jadi baiknya memang membiarkan dan melakukan pekerjaan semampunya.

Semoga kita mampu menjadi ibu yang sabar dan adil untuk anak-anak kita ya, Mak.
Tetap berpikir positif, bahwa kelak anak-anak kita akan saling mencintai dan tolong menolong.
Aaamiin.
Share:

27 comments:

  1. Jangan lupa berikan waktu berdua aja sama si kakak, kadang dia nanti merasa cemburu. Aku juga menyiapkan hadiah buat dia soalnya saat adiknya lahir suka banyak yang kasih hadiah biar dia senang

    ReplyDelete
  2. Aaaamin, doa yang sama Mbak, sayapun sejak diketahui hamil untuk yang ke dua kalinya saya langsung mempersiapkan si sulung menjadi kakak. Mulai dari mengajak kontrol, mengajak mengobrol bersama dan mengelus perut saya, ALhamdulillah kami semua sedang berproses ke arah lebih baik, meski kadang ya, kakak dan adik ada saja berantemnya, tapi kalau ndak ada ya pasti cari-carian gitu. Luculah tingkah mereka

    ReplyDelete
  3. ini dulu juga aku lakukan ke si sulung alhamdulilah sekarang dy syg sama adenya :) memang sejak dini harus dilibatkan jgn sampe nanti malah mencelakai adikny y mba

    ReplyDelete
  4. Beberapa hal diatas sudah saya lakukan sih ke Kakak Shakila dan Alhamdulillah dia sayang banget sama adeknya, tapi ya kadang aja aja gitu hal yang diributkan selerti berebutan krayon haha.

    ReplyDelete
  5. Kknya umur brp, mbak?
    Mengajak dia untuk ikut terlibat, pasti dia akan senang. Setuju banget sama point² diatas, itu sangat membantu. Sama waktu aku punya anak yg ke 2 ��

    ReplyDelete
  6. Waktu hamil Adek, saya pun seperti itu ke Kakak Faraz Mbak. Sejak tahu Adek ada di dalam perut, saat itu juga saya memintanya untuk berbagi, pas banget waktu itu emang udah saatnya menyapih. Alhamdulillah berjalan lancar. Si Kakak pun juga dengan senang hati mau berbagi. Saya bilang ada Adek di dalam perut. Tiap hari dia ciumin perut saya, elus-elus. Tiap kontrol juga kami bawa dia ikut serta.
    Yaah mengajarkan dia untuk berbagi sejak dini, Alhamdulillah saat Adek lahir dia pun sudah siap jadi Kakak.

    Sehat2 ya Mbak. Abang Khalid pintar pasti akan jadi Abang yang hebat ;)

    ReplyDelete
  7. Nomor (5) paling afdhol karena si kakak merasa dibutuhkan.

    ReplyDelete
  8. Aku sering baca di majalah soal rivalry sibling jadi memang orangtua harus bisa membagi perhatian ya biar si kakak nya nggak jealous.

    ReplyDelete
  9. Mempersiapkan mental calon kk memang calengging. Aku sampe beli kado khusus utk si kakak, dikasih ke dia kalo pas adiknya dpt kado dr yg jenguk. Haha

    ReplyDelete
  10. Iya sih bener...kakka harus dipersiapkan banget biar ga terllau jealous pas dapat adik nanti. Dan sayang ma adiknya yg pasti

    ReplyDelete
  11. Nah memang penting banget untuk melatih kemandirian anak dan menurutku juga melibatkan anak sejak adiknya dalam kandungan ya mba :)

    ReplyDelete
  12. Tenang mbak, nggak semua kakak pasti cemburu sama adiknya. Aku dulu punya ketakutan macam2, ternyata pas anak keduaku lahir, kakaknya yg beda 3 tahun sama adiknya malah tenang banget. Kalau adiknya nangis dan aku didapur, si kakak yg panik. Pokoknya adik ga boleh nangis, bunda harus selalu jaga adik.

    Justru setelah besar ini baru sering brantem krn adiknya iseng banget hahaha

    ReplyDelete
  13. Waktu hamil anak kedua juga saya pernah mengalami kekhawatiran seperti itu. Poin-poin yang ditulis di sini juga saya jalankan. Tetapi, memang kadang-kadang ada masanya di mana si kakak merasa diperlakukan gak adil.

    Ya namanya juga manusia. Tolok ukur adil suka berbeda-beda. Saya merasa udah adil, ternyata dari sudut pandang anak gak seperti itu. Jadi salah satu solusi yang saya lakukan adalah terus berkomunikasi yang baik dengan anak. Diskusikan kalau terjadi hal-ha seperti itu

    ReplyDelete
  14. Setuju, penting bagi kita buat siapin mental Kakak agar sayang pada adik bayi. Ponakanku tuh kurang persiapan, jd sama adiknya masih mau menang sendiri

    ReplyDelete
  15. Hiks..kayaknya saya ada step yang terlewat deh, jadinya sekarang si sulung masih suka berebut perhatian dengan adiknya, sukanya rebutan

    ReplyDelete
  16. Dulu anakku kalau adeknya lahiran dia juga dapat kado dibikinin khusus sama ayahnya

    ReplyDelete
  17. Saat sulung dan anak kedua mau punya adik, saya juga mempersiapkan mereka, Mbak.

    Salah satunya pas adiknya lahir mereka dapat kado. Juga memberi tahu adik mereka ada di dalam perut

    ReplyDelete
  18. Ak suka melibatkan kk dalam aktivitas ngurus ade, minta tolong ambilkan popok

    ReplyDelete
  19. Ahh...jd inget dulu.
    Juli dulu juga selalu ceritain ttg kebahagiaan mempunyai adik, buk.. punya temen baru, adek bayi yg kecil dan lucu, liatin fto2 kakak dan adik yg saling sayang. Kan banyak tuh foto kakak yg meluk/cium adk bayinya..

    ReplyDelete
  20. Anak pertamaku dulu ga pake persiapan karena kesundulan, umur setahun udah punya adik wkwk

    ReplyDelete
  21. Sedihku...
    Jaman anak kedua akan lahir, seperti beberapa proses pendekatan bonding kaka ke adiknya kurang.

    Jadi setelah usia batita, aku ngejar ketertinggalan itu.

    Rasanya beuraatt~
    Enakan di sounding sejak sebelum adiknya lahir gini yaa...

    ReplyDelete
  22. Soal emosi nih, bener banget kata suamimu mba, udah capek emosi, ntar capek beres2 pulak :))
    Alhamdulillah dulu saat hamil anak kedua, si sulung udah agak besar dan kayaknya juga pengin adek. Pas adiknya lahir udah ga caper. Tapi tentu saja selama hamil tetap sounding soal perannya sebagai kakak dan tidak ada beda sayang ayah dan ibu ke dirinya maupun adiknya.

    ReplyDelete
  23. Dulu anak pertamaku jd kakak di usia belia jg. Selalu diajak kontrol, dikenalin ma adek di perut, alhamdulillah abis adek lahir kakaknya sayang :D

    ReplyDelete
  24. mungkin karena usianya udah mau 7 tahun dan belum punya adik, anak saya justru nanyain terus kapan punya adik, dia udah sering bilang kalo nanti punya adik dia bakalan sayang sama adiknya :)

    ReplyDelete
  25. anakku nih tiap diajak ke dokter trus nanya, "Di perut ibu udah ada adiknya?"
    semoga kelak kalau dia beneran punya adik bakal sabar yaa nemenin adiknya.

    ReplyDelete
  26. Bener ya, tnyt kehadiran adek harus disiapkan utk si kakak. Jadi inget, mamaku pernah cerita katanya aku sbg kakak kl malam tiba, selalu bilang : adek pulangkan ke rumah sakit. Sambil nangis trus tertidur krn capek nangis.

    ReplyDelete
  27. Wah, kalau ingat masa lalu sering banget saya berkelahi dengan kakak pas waktu kecil
    tapi pas gede akur akur aja sih

    ReplyDelete