Saturday, September 1, 2018

Homeschooling dan Kurikulum Pendidikan



Anak kami, Khalid Al Walid memang tidak akan mengenyam pendidikan formal seperti sekolah. Sejauh ini kami bertekad tidak memasukkan Khalid ke sekolah umum. Pilihan jenis pendidikan ini sudah dipilih suami bahkan sejak sebelum menikah dengan saya. Saat memaparkan visi-misi keluarga ideal yang akan dibangun oleh suami (saat itu calon suami) mengatakan bahwa anak-anaknya tidak akan menyentuh pendidikan formal. Tentu saja hal ini membuat saya ngeri membayangkan jenis pendidikan apa yang akan di tempuh anak kami jika tidak sekolah ? Maklum, saat itu saya berpikir satu-satunya jenis pendidikan dan pembelajaran adalah dunia sekolah. Dia mengatakan, anaknya akan full Homeschooling (HS) bersama Ibunya sebagai gurunya. Merinding saya mendengar ini, terbersit untuk menolak pinangan. Bagaimana mungkin saya akan menikah dengan laki-laki yang tidak ingin menyekolahkan anaknya. Akhirnya dijabarkan panjang lebar. Alasan dan beberapa bukti mengapa ia memilih HS sebagai jalur pendidikan anaknya. Saya mengerti, walau masih ngeri membayangkan kemampuan diri. Saya bukan wanita dengan tipe akademis tinggi. Hasil kuliah saya IPK standar. Masuk dalam angka 3 namun masih dalam kategori biasa karena jalur pendidikan yang saya tempuh Akuntansi. Beda dengan dia yang IPKnya mendekati 4 dengan pilihan pendidikan Teknik Elektro. Jadi wajar menurut saya, jika saya tidak menganggap diri ini pintar. Hahahahha

Setelah kami sepakat untuk HS bagi Khalid, kami mencari terus info tentang homeschooling. Terutama bagi saya yang masih sangat tidak paham apa itu HS. Saya sering mendengar HS itu dari anak artis yang sibuk kebangetan dan akhirnya memilih HS. Saya pikir HS itu  sama dengan les. Hanya belajar mata pelajaran yang di ikut sertakan Ujian Nasional demi mengejar ijasah. Akhirnya saya berkesempatan mengikuti webinar Rumah Inspirasi. Dari situlah terbuka lebar tentang informasi HS, serba-serbi HS  termasuk legalitas dan kurikulumnya. Saya makin PD dengan HS. Makin semangat membekali diri ilmu parenting dan komunitas parenting. Komunitas HS di Batam masih sangat minim. Bahkan sebagian dari orang tua menganggap HS itu adalah sebuah lembaga pendidikan sejenis sekolah Kak Seto  atau PKBM. Namun makna HS sesungguhnya adalah Belajar di Rumah. Di rumah dengan orang tua sebagai fasilitator bukan diserahkan ke pihak ketiga. Dan lembaga-lembaga itu lebih tepat di sebut dengan Flexi-School.

Kurikulum Anak Homeschooling

Pasti sebagian dari yang membaca tulisan ini bertanya-tanya, Apa yang dipelajari anak HS ?
Untuk menjawab pertanyaan ini kita bisa melihat kasus beberapa anak Homeschooling yang sukses masuk perguruan tinggi baik di dalam maupun di luar negeri. Seperti Musa Izzanardi yang berhasil masuk ITB saat usia 14th. Kasus ini sempat heboh. Mengingat usia Musa yang masih kecil dan tidak pernah menempuh pendidikan formal.

Artinya anak HS pun mengetahui dan dapat melalui tes Ujian Nasional. Karena untuk masuk perguruan tinggi harus melalui berbagai ujian dan memegang ijasah kecuali yang melalui jalur khusus yang istimewa seperti Hafidz Quran dll.

Kurikulum yang saya maksud tentu kurikulum yang dirancang pemerintah sesuai jenjang pendidikannya. Namun sebagai anak HS, kurikulum ini bebas di modifikasi sesuai minat dan bakat anak. Jika anak tertarik dengan matematika, boleh menambah durasi lebih panjang dan intens untuk kegiatan belajar matematika dan meniadakan atau mempersingkat jenis pelajaran tertentu yang tidak terlalu diminati anak.

Nah disinilah sumber diskusi alot saya dengan suami. Seperti biasa, diawalnya kami berselisih paham namun setelah dijelaskan panjang lebar oleh suami saya malah terpukau dan merasa beruntung diperistrinya. Hahahha

Menurut suami saya, ijasah bukanlah gol dia yang ingin diberikan kepada Khalid. Tidak mengapa Khalid tidak memiliki ijasah namun dia mahir dalam satu bidang tertentu. Ini berawal dari diskusi tentang sebuah keluarga yang mengusung tema Zero Waste ala keluarga DK  Wardhani. Jadi anak-anaknya tidak sertamerta dikenalkan dengan kurikulum pemerintah. Namun mereka punya arah dan gaya pendidikan sendiri. Terbukti saat ini anaknya yang usia setara SD sudah mampu presentasi secara profesional dalam sebuah forum serius.

Sejujurnya, bagi saya ijasah adalah backup plan. Benar, tidak ada yang tahu takdir dimasa depan. Jadi saya tentu menginginkan Khalid memiliki ijasah untuk jaga-jaga jika suatu saat dia harus sekolah umum atau harus masuk perguruan tinggi di Indonesia yang membutuhkan ijasah. Karena diluar negeri hanya berbekal portofolia anak sudah bisa mendapat beasiswa dan dilirik oleh perguruan tinggi.

Dalam diskusi itu saya mencatat beberapa poin yang membuat saya bergetar untuk terus belajar dan memantaskan diri menjadi fasilitator. Perlu di ingat, dalam HS sang Ayah adalah kepala sekolah dan ibu adalah gurunya. Jadi wajar jika Ibu mengikuti arah pendidikan yang di inginkan sang kepala sekolah.
  1. Homeschooling bukanlah memindahkan sekolah kerumah. Jika pelajarannya sama dan pola mendidiknya sama, mengapa tidak masukkan aja ke sekolah ? Buang-buang waktu dan energi dengan mengajar anak sendirian dirumah.
  2. Ijasah bukanlah hal yang utama. Namun tidak juga haram untuk dimiliki. Tidak mengapa anak tidak memiliki ijasah namun ia mahir dalam satu bidang.
  3. Orang terkenal itu hanya memiliki satu jenis keahlian namun ia mahir dibidangnya. Suami mencontohkan Lionel Messi. Sejak kecil sudah tertarik di dunia bola. Jadi tidak mempelajari hal lain selain bola. Begitu pun penemu-penemu dunia seperti Albert Einstein. Mereka yang hanya fokus dalam satu bidang dan mendalaminya justru lebih sukses dibanding kita yang mempelajari semua jenis mata pelajaran.
  4. Kurikulum bukanlah acuan pendidikan anak. Khalid bebas mengeksplor apapun yang dia sukai walau tidak ada dalam kurikulum pemerintah. Eksplor tentang sampah, tentang dunia tulisan atau apapun yang diminatinya. Sebagai orang tua hanya memfasilitasi dan mengarahkan agar tidak salah jalan. Maka kami menyebut diri kami dengan fasilitator anak, bukan guru.
  5. Tantangan yang akan dihadapi Khalid akan semakin berat. Sudah seharusnya mempersiapkan Khalid dengan cara yang berbeda dengan pola pendidikan yang dijalani orang tuanya. Jika tidak maka Khalid akan menjadi manusia umum. Sepertinya ibu atau ayahnya. Jika hanya ingin menjadi manusia umum, sekolah dan akhirnya bekerja seperti Ayah atau Ibunya maka Khalid tidak perlu HS. Cukup sekolah seperti kedua orang tuanya. 
Itulah jalan pemikiran suami yang pada saat diskusi kepala saya terasa berat dan air mata menetes. Bukan karena sedih. Namun menyadari tanggung jawab semakin besar. Sebesar impian kami kepada Khalid. Sebesar keinginan kami agar ia mampu bermanfaat secara luas. Agar bukan hanya Batam yang ia jelajahi. Namun setiap jejak bumi ia jelajahi dan paham memposisikan diri.

Tulisan ini bukan dibuat untuk ajang pamer dan debat lebih baik mana sekolah umum atau HS. Namun lebih pada pengingat dan pacuan diri bahwa kami ingin membesarkan anak secara serius dan fokus. Agar menghasilkan anak yang paham kemampuan diri, paham tanggungjawab diri, paham tujuan ia hadir di dunia, paham tanggungjawabnya bukan hanya sebagai manusia biasa namun sebagai manusia yang berTuhan, Alloh SWT.
Share:

9 comments:

  1. Keputusan sulit ya kak, ku aja ga bs bayanginnya. Tapi jadi sedikit tertarik mendengar untuk mengjarkan anak tentang fokusnya pada satu bidang tertentu, kerennn, lanjutin terus ya kak share" tentang HS :3

    ReplyDelete
  2. Wahh keren. Semangat ibuk. Insyaallah khalid didampingi fasilitator hebat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masyallah.
      Tabarakallah.
      Doain kami ya Akaaaak

      Delete
  3. Homeschooling.... Aku pensaran banget. Apa di indonesia bisa diakui juga ga ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kak. Baca please tulisannya sebelum komentar :(

      HS itu legal dan diakui

      Delete
  4. Jadi inget dengan Gen Halilintar. Mereka gak sekolah kan? Tapi pinter. Emang sih kalo dipikir home schooling. ngajarnya

    ReplyDelete