Tuesday, August 7, 2018

Pekan Asi Sedunia, Derita dalam MengASIhi



Hari ini adalah hari terakhir dunia memperingati Pekan Asi Sedunia atau World Breastfeeding Week. Jika suatu perayaan biasanya dirayakan 1 hari, maka berbeda dengan menyusui. Ia dirayakan selama 1 minggu. Dimulai dari 1 Agustus hingga 7 Agustus. Tidak berlebihan, karena perjuangan untuk terus menyusui itu berat. Terlebih ditengah gempuran dan iming-iming sufor (Susu Formula) yang semakin menjamur. Bahkan ada yang berani membranding sufor sejajar gizinya dengan Asi. Mungkin kah ?

Pekan Asi Sedunia ini membuat saya flashback kembali masa-masa menyusui. Baru 1 tahun saya off menyusui, Khalid resmi di sapih saat usianya 2 tahun. Sejenak saya merasakan kehilangan dan kemudian menikmati bisa bepergian tanpa Khalid. Hahahha. Saat masih menyusui, saya dan Khalid 1 paket. Tidak bisa dipisahkan !

Perjalanan menyusui Khalid sesungguhnya ada banyak drama. Saat itu status saya masih bekerja di salah satu Bank, tragedi puting lecet dan pompa asi di gudang. Saya jalani semua itu. Bertekad keras agar Khalid lulus Asi hingga 2 tahun.

Saat baru lahir, saya tidak serta merta bisa langsung menyusui Khalid. Ia perlu di observasi di ruang khusus karena sel darah putihnya tinggi, kekhawatiran keracunan air ketuban karena saat itu ketuban saya hijau. Saya bertemu Khalid di hari kedua saya lahiran. Tanpa banyak ilmu dan membaca, bismillah saya langsung menyodori payudara (PD) saya ke Khalid. Dengan mulusnya Khalid menyusui. Saya pikir semudah itu. Ternyata keesokkan harinya kedua puting saya lecet. Perih minta ampun. Kemudian saya lapor pada perawatnya. Ternyata pelekatan saya salah. Bagian areola harus masuk semua. Lidah bayi saat baru lahir itu kasar, jadi wajar jika menyebabkan lecet bahkan hingga berdarah.


Kedua puting PD terlanjur lecet. Keduanya mengalami luka yang parah. Saat pulang dari RS keadaan puting makin memburuk. Dokter tidak menyarankan pemberian salep. Obatnya hanya 1, Menyusui ! Dengan derai air mata dan penuh ketakutan saya menyodorkan PD ke Khalid. Saat itu adalah momen paling menakutkan bagi saya. Bahkan lebih membuat saya cemas dan ketakutan dari pada masuk ke ruang operasi. Saya menunggu hingga Khalid membuka lebar mulutnya. Menunggu hingga menangis keras barulah memasukkan PD dengan cepat. Setiap sedotan Khalid itu menyakitkan. Saya harus menggenggam bantal atau selimut. Menggigit baju, keringat dingin bercucuran. Bahkan saat Khalid gumoh, ada warna merah di muntahannya. Karena puting sudah berdarah. 

Ditengah kesakitan itu, saya merengek pada suami untuk memberikan sufor pada Khalid. Namun suami menolak. Ia menyemangati saya dengan pahala bahwa setiap rintihan kesakitan saya ada pahala besar yang mengalir. Perkataannya agak menenangkan. Semoga bergugur segala dosa ini ya Alloh. Kemudian suami mendampingi saat saya menyusui. Sekedar menggenggam tangan saya, atau duduk menemani sudah sangat membantu. Saya lihat ekspresi suami pun penuh kebingungan. Mungkin doi bingung, mau bantuin tapi harus gimana, gak dibantuin gak tega. Hahahahaha

Baca juga : Menyapih Tanpa Membohongi

Akhirnya konsultasi dengan konselor Asi. Diberitahu trik agar lecet segera sembuh. Salah satunya dipompa bagian yang mengalami lecet parah. Akhirnya saya mempompa PD bagian kiri. Ternyata pompa ini membuat produksi ASI tidak selancar pada PD yang menyusui langsung. Kanan memproduksi ASI dengan banyak, sedangkan kiri yang saya pompa tidak sederas PD kanan. Akhirnya Khalid hingga tuntas ASI 2 tahun hanya ingin menyusui pada PD kanan.

Selama hampir 1 bulan saya berjuang dalam menyusui. Menunggu lecet pulih dengan alami itu ternyata memakan waktu. Tapi tidak ada pilihan lain, langkah teraman adalah menikmati masa luka dan mengobati dengan pengobatan alami. Ini yang saya lakukan saat puting lecet akibat menyusui.
  1. Tetap menyusui, karena air liur anak salah satu penyebab luka cepat sembuh
  2. Setelah menyusui, oleskan lelehan ASI di sekitar bagian yang lecet.
  3. Disela anak tidur, atau saat tidak menyusui pijat PD dan olesi puting dengan minyak zaitun. Jangan lupa bersihkan dengan air hangat sebelum menyusui anak.
  4. Pompa secara bergantian PD yang lecet. Untuk memberi waktu penyembuhan.
  5. Konsultasi dengan konselor ASI
  6. Berdoa pada Alloh. Semoga kita diberi kesabaran dan kesembuhan dengan cepat.
Menyusui itu perlu tekad baja, maka tidak salah jika emak-emak jaman now memberi tagline "Menyusui dengan keras kepala" karena sungguh, perjuangannya tidak mudah.

Menyeimbangkan Peran Working Mom dan Busui

Saat Khalid lahir saya tidak langsung mengajukan resign. Saya menunggu hingga 3 bulan masa cuti melahirkan saya habis. Belakangan saya baru tau ternyata bisa mengajukan resign dimasa cuti. Posisi terakhir saya saat bekerja adalah frontliner. Waktunya sangaaat terbatas untuk pompa dan beristirahat. Saya harus segera kembali melayani nasabah saat jam istirahat usai. Untuk menghemat waktu, kadang saya makan sambil pompa. Atau makan dengan cepat kemudian masuk gudang untuk pompa ASI. Jaman saya bekerja, belum ada kampanye hak-hak busui di kantor. Akhirnya ruang laktasi saat itu tidak kami miliki padahal ibu-ibu banyak juga yang menyusui. Karena keterbatasan waktu dan terburu-buru saya hanya menghasilkan 3-4 botol 100ml ASIP (ASI Perah) dalam satu hari.

Hasil perahan dan kebutuhan ASI Khalid bertolak belakang. Khalid dalam sehari menghabiskan 7-8 botol ASIP 100ml. Dan malamnya dia menyusu langsung pada saya. Alhamudulillah, Khalid tidak mengalami bingung puting. Jadi tidak ada kendala saat menyusui langsung atau menggunakan dot. Stok ASIP tipis dan kemampuan saya dalam menghasilkan ASIP sedikit membuat saya kejar setoran. Alhamdulillah, hingga masa resign saya tiba, Khalid berusia 2 bulan kebutuhan ASIP Khalid terpenuhi.

Saya mengingat dengan baik, saat harus menyusui sambil bermakeup. Frontliner wajib bermakeup. Ada serpihan makeup yang jatuh ke pipinya saat saya menyusui. Saya meninggalkannya dalam kondisi tertidur atau melepas dengan paksa saat ia masih asyik menyusu. Sungguh, perasaan ini tidak enak sama sekali. Saya harus berjiwa besar untuk meninggalkan anak dirumah. Belum lagi BB Khalid turun. Karena hasil pompaan ASI hanya mampu mengambil bagian teratas ASI alias foremilk. Foremilk yang agak encer ini sedikit mengandung lemak. Ini berimbas pada BB Khalid.

Sesampai dirumah menjelang maghrib. Kondisi sudah capeeek sekali. Ingin bercengkrama dengan Khalid rasanya tidak bergairah. Akhirnya hanya mampu memeluk dan bercerita alakadarnya. Ini adalah salah satu alasan saya menyetujui saat suami meminta saya resign. Maka dalam surat resign saya, saya menuliskan "Ketidakmampuan menyeimbangkan peran ibu dan pegawai" sebagai alasan saya resign.

Alhamdulillah, kini Khalid sudah berusia 3 tahun dan dalam beberapa bulan kedepan saya akan kembali menjadi busui (Ibu Menyusui) Insyallah. Tragedi puting lecet tidak boleh terjadi lagi. Cukup di Khalid saja. Harus menambah ilmu dan pelekatan yang benar. Agar menyusui itu semenyenangkan memandang wajah mungilnya. Aamiin.

Selamat Merayakan Pekan Asi Sedunia para Mamaks !
Working mom, atau full time mom tetap mengASIhi adalah hal yang utama.
Maka saya sepakat dengan "Menyusui dengan keras kepala"

Semangat Menyongsong BUSUI !
#2019JADIBUSUI
Share:

31 comments:

  1. Anak saya yang pertama tidak mendapat ASI yang cukup karena ASI tidak keluar tetapi Alhamdulillah anak yang kedua setelah istri mengkomsumsi sayuran yang berguna untuk merperbanyak ASI akhirnya sampai sekarang bisa memberi bayi ASI yang cukup

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semangat Pak !
      Wah seneng rasanya ada suami yang peduli ASI.
      Selamat pak. Masuk dalam ketegori Ayah ASI
      hehehe

      Delete
  2. Keren ibuk. Kisah asi selalu indah. Aku malah belum nulis tema ini padahal hari ini terakhir dan ini job akuh. Huuuhuhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe
      ingin mengenang kembali plus menyemangati mamak mamak untuk kuat dan semangat ngASI kak

      Delete
  3. Wiihh.. Perjuangan bgt ya mak khalid.. Semoga yg kedua jauh lebih lancaarr..

    ReplyDelete
  4. Ngilu banget pas baca bagian si Khalid gumoh, ada warna kemerahan saat ASI bercampur dengan darah. Perjuangan banget buat si ibu biar bisa nyusuin anaknya. Semoga anak kedua nanti bisa diberi ASI tanpa lecet ya Des.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiin.

      Begitulah ka,
      Perjuangan Mamak !
      Hehehhe

      Delete
  5. Wah, suatu pengorbanan dan perjuangan yang luar biasa ya kak. Mengharukan

    ReplyDelete
  6. Wah ada juga ya namanya pekan AsI sedunia. Meski katanya aku gak pernah rasain ASI karena ibu gak bisa menghasilkan ASI waktu itu, ya kadang lihat juga wanita yang susah payah menyusui bayinya. Respek!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada bang :)
      Biar Dunia melek, bahwa Menyusui itu butuh perjuangan
      hehehe

      Delete
  7. Ya ampun baca ini sambil ngebayangin putingnya luka, pasti perih banget

    ReplyDelete
  8. Tetangga saya seorang Bidan, selalu menyarankan Bumil agar nanti bayinya diberi Asi secara langsung. Menurutnya ada beberapa fase pertumbuhan anak yang harus dipenuhi, selain bermanfaat untuk biologis (oral)juga berpengaruh pada mental, kedekatan emosional. Tapi benar nggak sih, kalau menyusui dekat suami itu ada nilai plusnya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang yang terbaik menyusui skin to skin.
      Tapi klo ada kendala seperti Ibu Bekerja, ASIP bisa jadi Pilihan.
      Hehehe

      Delete
  9. Tetap mengASIhi sambil kerja itu rasanya luar biasa banget ya, Des.. I feel you

    ReplyDelete
  10. Saluut sama buibu working mom yang "keras kepala" nyusuin bayinya. Bener kak, menyusui itu butuh tekad kuat. Drama apapun terlewati juga akhirnya, karena keras kepala itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iaa.
      jenis Keras Kepala ini yang harus dipelihara ya.
      Keras kepala dalam menyusui/
      hehehe

      Delete
  11. iya salut sama mom yang kerja juga dan juga menyusui
    pasti nya bakal repot dan juga bagi waktu nya

    semoga dimudahkan

    ReplyDelete
  12. Sufor TIDAK AKAN PERNAH bisa menggantikan asi. Kedekatan dengan bayi, perasaan terlindungi, perasaan penuh cinta, yang bisa ibu berikan saat menyusui bayinya langsung tidak akan pernah bisa digantikan oleh sufor. Derita? Nope. Berkat? YES!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener Ce,
      Berkat.
      Derita yang penuh berka.
      Kami menyebutnya Jihad.
      hahaha

      Delete
  13. wah saya beneran bangga dan salut sama ibu2 yang walaupun bekerja tapi tetep memeberikan asi nih sama sikecil, mantap mba

    ReplyDelete
  14. #2019adaadiknyaKhalid ya kak? hehe.. aamiin..

    masyaaAllah. kakak dapat dorongan yang super sekali dari suami. coba kalau gak dikuatkan dari orang terdekat gitu, gak akan lulus asi 2 tahun pasti. keren ceritanya kak..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener kak,
      peran suami dalam kondisi begini sangaaaaatt dibutuhkan.
      Salut sama mamak-mamak yang tinggal terpisah sama suaminya.

      Delete
  15. Baru ngeh juga ada hari asi sedunia... hehehehe.... Memang perjuangan ibu yang cukup mengharu biru saat memberikan asi, apalagi di hari-hari pertama karena biasanya akan menimbulkan luka pada puting dan bagian sekitarnya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehehe
      Ada Bu..
      Setiap Pekan pertaman dalam bulan Agustus :)

      Delete
  16. bagi ibu bekerja tantangan berat memberikan asi sampai umur 2 tahun apalagi kalau ibu sering keluar kota tapi asi ini penting bagi bayi karen salah satu fungisnya membangun kekebalan tubuh

    ReplyDelete