Friday, September 28, 2018

Stunting dan Efek Jangka Panjang Pada Ledakan Demografi

Pemerintah Indonesia mentargetkan prevalensi stunting turun menjadi 28% pada tahun 2019
Bulan lalu dengan berat hati saya harus berkunjung ke dokter spesialis anak. Bukan karena anak saya sakit namun karena kekhawatiran kami tentang Stunting. Sekilas, fisiknya tidak ada yang salah. Anak saya, Khalid tetap ceria dan aktif seperti biasa. Namun yang menjadi kegundahan saya adalah berat badannya yang sulit naik dan tingginya yang tidak ada kenaikan yang signifikan dari bulan ke bulan.

Tak ingin menduga-duga, kami langsung menemui dokter Spesialis anak. Hasilnya cukup baik. Menurut dokter, Khalid tidak termasuk Stunting maupun gizi buruk. Hanya saja dalam kurvanya Khalid berada di batas normal bawah. Dokter menyarankan susu dan vitamin untuk di konsumsi anak saya. Tentu saja pemenuhan gizi seimbang melalui makanan menjadi wajib saya perhatikan. Pesan dokter, biasakan anak makan makanan bervariasi. Jangan lupa daging. Karena daging mengandung zat besi yang dibutuhkan untuk perkembangan tubuhnya. Pemantauan kembali dilakukan tiga bulan berikutnya. Semoga saja Khalid sudah mengalami kenaikan berat badan dan tinggi badan yang maksimal saat kembali kontrol.

Stunting ?
Pernahkah ibu-ibu sekalian mendengar kata ini ? atau bahkan asing ? jika belum tahu tentang Stunting maka sebaiknya segera cari tahu karena Stunting adalah ancaman serius bagi buah hati kita. Stunting kata lainnya adalah kerdil. Namun bukan hanya kerdil badannya tetapi juga perkembangan otaknya. Secara garis besar Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kekurangan asupan gizi dalam jangka waktu tertentu. Stunting dimulai ketika masih dalam bentuk janin alias pada saat masa kehamilan. Kurangnya asupan gizi pada ibu hamil mengakibatkan melahirkan bayi dalam keadaan berat badan rendah dan pendek. Idealnya bayi terlahir dengan berat badan minimal 2500 gr dan tinggi 48cm.

Data stunting di Indonesia cukup mengkhawatirkan. Berdasarkan riset kesehatan dasar 2013 mencatat prevalensi stunting nasional mencapai 37,2 % meningkat dari tahun 2010 yakni 35,6% dan 2007 36.8%. Artinya pertumbuhan tak maksimal di derita oleh sekitar 8.9 juta anak Indonesia atau bisa di bilang satu dari tiga anak Indonesia berpotensi stunting. Hal ini lebih besar di bandingkan negara-negara lain di Asia Tenggara yakni Myanmar 35%,  Vietnam 23% dan Thailand 16%

Menkes Prof.Dr.dr. Nila Farid Moeloek "Generasi Indonesia Jangan Stunting"

Berdasarkan riset diatas, pemerintah Indonesia mentargetkan prevalensi stunting turun dari 37% (2013) menjadi 28% pada tahun 2019. Tentu kita harus mendukung pemerintah dalam menanggulangi prevalensi stunting demi terwujudnya Indonesia Sehat. Ketahanan nasional dimulai dari ketahanan keluarga.


Lingkaran penyebab stunting





Stunting bahkan bisa dimulai sejak 1000 hari pertama kehidupan. 1000 hari pertama ini dimulai ketika sang ibu hamil (270 hari) hingga sampai bayi berumur dua tahun (730 hari). Masa ini adalah masa keemasan pertumbuhan anak. Pemenuhan gizi seimbang sangat dibutuhkan. Secara garis besar masalah stunting dapat di urai dalam beberapa bagian berikut ini :

  1. Kurangnya pengetahuan tentang gizi seimbang
    masalahnya sampai saat ini masih banyak orang tua yang mempercayai pemberian MPASI tunggal pada anaknya padahal pada masa awal MPASI, saat usia
     6 bulan, anak sangat membutuhkan setidaknya 770 kkal. Hal ini tidak dapat dipenuhi hanya dengan menu tunggal.
  1. Faktor Ekonomi
    Sudah menjadi rahasia umum, jika ekonomi salah satu penyumbang gizi buruk pada anak. Pernah mendengar kasus anak bayi diberi susu kental manis (saat ini susu sudah tidak boleh di labelkan pada skim kental manis) akibat faktor ekonomi sang orang tua. Belum lagi pemberian mie instan pada anak bayi yang dianggap wajar.

  2. Kekurangan Gizi saat Hamil
    seorang ibu yang mengalami malnutrisi beresiko melahirkan bayi malnutrisi. Bayi yang lahir dalam keadaan berat badan rendah berpotensi menghadapi banyak penyakit karena daya tahan tubuhnya yang lemah.

  3. Pengabaian pada Pertumbuhan Anak
    Siapa yang pernah mendengar “ Ah, tidak masalah anakku pendek yang penting sehat” padahal anak kerdil ada indikasi masalah dalam tubuhnya. Bisa jadi penyerapan nutrisinya yang salah atau memang tidak mendapat nutrisi yang tepat. Cek dan kontrol secara rutin tinggi, berat badan, lingkar kepala dan catat.

  4. Tidak Membiasakan Anak dengan Menu Bervariasi

    Salah satu penyumbang stunting adalah sedikitnya anak yang menyukai sayur maupun lauk pauk. Anak picky eater cenderung sulit menaikkan berat badannya. Nutrisi yang masuk kedalam tubuhnya juga sedikit. Menyebabkan perkembangan tubuh dan otaknya tidak maksimal.
Jika anak sudah mengalami stunting, apa akibatnya ? apakah hanya kerdil tubuhnya ? memiliki badan pendek diantara teman-temannya ? ternyata akibatnya sangat buruk dan jangka panjang. Lebih buruknya lagi, akibat dari stunting ini bersifat irreversible alias tidak bisa diperbaiki. Karena yang diserang stunting bukan hanya tinggi badan namun juga otak.

1000 Hari Pertama Kehidupan
Akibat dari stunting dapat di rinci sebagai berikut :
  1. Menurunnya Produktifitas
    Penelitian menyebutkan anak yang terkena stunting saat dewasa kelak berpotensi memiliki penghasilan rendah setidaknya 20% lebih kecil dibanding anak yang tidak terkena stunting. Hal ini di akibatkan oleh lemahnya daya tangkap dan kondisi fisik anak stunting.

  2. Menurunnya prestasi
    Rendahnya asupan gizi pada anak
    stunting tak hanya mempengaruhi pertumbuhan fisik tapi juga otaknya. Hal ini berakibat pada perkembangan IQ nya yang tidak maksimal. Akibatnya prestasi akademiknya akan rendah.

  3. Menurunnya kemampuan Bersaing
    Anak stunting akan tertinggal dalam bersaing. Ia akan mengalami kekalahan demi kekalahan akibat perkembangan fisik dan otaknya yang tidak sempurna. Tentu ini akan mengancam keberadaannya dalam daya saing global yang berimbas pada kehidupannya.

  4. Merusak Ekonomi Masyarat dan Negara
    Ketidakmampuannya dalam bersaing membuatnya akan tersisih. Hal ini menyebabkan ia akan menjadi beban negara dan masyarakat.

  5. Beresiko mengalami penyakit kronis ketika dewasa
    Metabolismenya yang tidak berkembang sempurna menjadikan anak stunting berpotensi terkena penyakit serius seperti diabetes, jantung, kanker dll.
Membayangkan anak saya akan mengalami kelima hal diatas membuat saya merinding. Jauh sebelum dia menjadi beban negara terlebih dahulu ia akan menjadi beban orang tua. Jadi bagaimana bu ? masih tenang saat anak tidak tumbuh tinggi secara optimal ? namun kabar baiknya Stunting ini dapat di cegah ! jadi jangan buru-buru pesimis.


Salah satu langkah mencegah stunting adalah ASI






Tidak ada masalah yang tidak dapat dicegah. Asal kita tahu dan mengenali kondisi masalah yang saat ini menyerang kita maka apapun itu dapat dicegah. Termasuk stunting. Prevalensi stunting dapat di cegah melalui :
  1. Pemberian cukup gizi pada masa 1000 hari per tama kehidupannya.
    artinya mulai berikan perhatian serius pada ibu hamil. Minum suplemen yang diberikan oleh dokter semasa hamil dan kontrolkan kehamilan sebulan sekali
  2. Pemberian ASI
    ASI dimulai saat pertama kali anak dilahirkan yakni IMD kemudian dilanjutkan ASI Eksklusif selama 6 bulan dan tetap dilanjutkan ASI hinga anak berusia 2 tahun.
  3. Pemberian MPASI dengan tepat
    Lupakan menu MPASI tunggal. Anak butuh gizi lebih dari sekedar alpukat yang dilumatkan dengan ASIP. Berikan ia makanan yg bervariasi dan tentu saja sesuaikan dengan kemampuan mulutnya dalam mengunyah.

  4. Perhatikan Menu Harian Keluarga “Isi Piringku”
    Biasakan anak mengkonsumsi menu ala “isi piringku” yakni ½ dari piring adalah buah dan sayur, ¼ piring adalah karbohidrat (biji-bijian, beras, gandum dll), dan ¼ piring makanan di isi dengan sumber protein baik hewani maupun nabati.

  5. Pantau perkembangan anak di Posyandu terdekat dan lakukan imunisasi secara lengkap
    Jangan lupa setiap kali ke posyandu atau puskesmas minta petugasnya mengisi langsung dan menerangkan KMS (Kartu Menuju Sehat) pada kita agar perkembangan anak dapat tercatat dan dipantau.

Ada berita gembira bahwa tahun 2030 Indonesia akan menikmati bonus demografi. Bonus demografi adalah kondisi populasi Indonesia usia produktif lebih banyak dari pada usia nonproduktif. Jika Indonesia menikmati bonus demografi pada tahun 2030 maka anak-anak yang saat ini berusia balita akan menjadi bagian dari bonus demografi.

Lalu apa hubungannya dengan stunting ?

Disinilah titik krusialnya. Meningkatnya secara tajam usia porduktif mengakibatkan persaingan semakin ketat. Jika anak mengalami stunting bisakah ia bersaing secara kualitas ? Bagaimana ia akan berkarya jika produktifitasnya tidak optimal ?

Maka ledakan demografi hanyalah sebuah beban bagi negara jika usia produktif di isi oleh generasi kurang gizi seperti stunting. Sedangkan bonus demografi dapat di nikmati jika sumber daya manusia berkualitas sehingga meningkatkan pendapatan perkapita suatu negara. Selain itu terserapnya tenaga kerja produktif memungkinkan berkurangnya pengangguran. Artinya tingkat kesejahteraan masyarakat meningkat.

Untuk mewujudkan bonus demografi maka kita harus berjuang menghilangkan stunting dari dalam masing-masing keluarga kita. Agar anak dapat tumbuh optimal dan memiliki daya saing global. Tanpa memerangi prevalensi stunting, maka ledakan demografi ini hanya akan menjadi beban pemerintah.

Dari paparan diatas, akibat buruk jangka panjang prevalensi stunting adalah Indonesia tidak dapat menikmati bonus demografi yang seharusnya menjadi titik tolak kemajuan Indonesia. Usia produktif diharapkan mampu menggenjot perekonomian suatu bangsa. Namun itu tidak akan terjadi jika sumber daya manusia yang dimiliki Indonesia tidak berkualitas.

Wapres Jusuf Kalla: Bicara Pencegahan Stunting, Bicarakan Masa Depan Bangsa


Mari secara serius, menurunkan angka prevalensi stunting menjadi 28% ditahun 2019 demi mewujudkan Indonesia sehat. Ingat, Stunting dapat dicegah !


Salam,
Desy oktafia

Referensi :
foto, video dan ilustrasi :
1. Kementerian Kesehatan RI
2. Indonesiabaik.id
3. short and long term effects of early nutrition (james et al 2000)

Share:

80 comments:

  1. Ku juga kuatir, bawa Umar ke dokter, lantaran grafik KMSnya dibawah terus,skrg lg pantau dan cari penyebabnya, PR emaknya kudu catch up BB...
    Baru tau ni soal ledakan demografi 2030, tararengkyu ibuuk, clear and easy to understand...

    ReplyDelete
  2. Penting ini utk mencegah stunting anak. Ortu memang harus aware dgn tumbuh kembang anak. Kadang ada ortu yg menganggap badan anak gak tumbuh hanya karena faktor keturunan... Thanks Sharingnya Bunda...

    ReplyDelete
  3. Info sangat bermanfaat ibuukk!

    ReplyDelete
  4. Keren si ibuk...jadi ingat lagu Menu seimbang upin ipin "suku...suku..separuh"
    Hehee klo di kita sepiring nasi sambal sepotong 😅

    ReplyDelete
  5. DI Indonesia kasus stunting ternyata banyak ya. Harus diatasi dari sekarang demi masa depan anak-anak juga

    ReplyDelete
  6. Mba Desy luar biasa, makasih banget Mba Des. Aku jadi tahu banyak soal stunting ini sebelumnya aku nol banget. Apalagi karena belum punya anak juga, gizi yang harus seimbang dan terpenuhi ini wajib banget ya Mba. AKu bermasalah diberat badan yang cuma 40 hahaha, ini udah mending sebelum nikah 38. Kurus banget kan. Semoga aku semakin bijak dalam menjaga gizi seimbang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah. Langsing donk Mba.
      Gpp mba. Asal makan sehat dan cukup gizi. Insyallah berat badan bukan masalah. Hehehe

      Delete
  7. Trimakasih mba Desy tulisannya lengkap banget ttg stunting. Ahsan juga picky eater mba.tp sekarang yaudah lah aku ngikuti maunya dia walau pilihannya cuma telur,ayam,tahu,tempe,sosis,nuget homemade.Tetep semangatttt..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sayurnya di jadiin bakwan mba.
      Atau jamur krispy
      Aku sering akalin brokoli goreng utk khalid yg suka gorengan. Tapi sayur dia oke jg sih

      Delete
  8. Harus terus memperhatikan nilai asupan gizi anak-anak ya agar mencegah terjaidnya stunting, tahu kata stunting ini dari iklan di tivi heheh

    ReplyDelete
  9. Memang dilema banget ya buk jika generasi saat ini banyak yg stunting pas ledakan demografi malah gak bisa bersaing. Ini yang jadi ke khawatiran banyak ibu saat ini ya

    ReplyDelete
  10. wah aku baru tau ada istilah stunting... alhamdulillah dapat ilmu baru, tidak untuk anakku lagi yang sudah beranjak dewasa, setidaknya buat ponakanku nanti

    ReplyDelete
  11. Pengaruh nggak sih antara bayi dg BBLR dan stunting? Penasaran

    ReplyDelete
    Replies
    1. Klo tidak segera dikejar BBnya bisa jadi pengaruh mba.
      Kontrol aja ke dsa atau posyandu

      Delete
  12. Konten postingan yang lengkap dan manfaat ditamnbah dengan infografis yang keren. Terima kasih sharingnya, Dessy.

    ReplyDelete
  13. Mba Desyyyyyy.. isinya lengkap banget mengenai stunting ini. Semoga anak2 Indonesia dan di dunia bebas dari stunting.

    Seram banget, angka pertumbuhan stunting di Indonesia tinggi.

    Oh ya saran aja mba (please jangan marah): penulisan di untuk kata awalan (sifat) digabung mba. dan di untuk kata depan (keterangan tempat) dipisah.

    Ada peluruhan makna dengan tambahan kata awal dan imbuhan men -target-kan = sebaiknya ditulis menjadi Menargetkan. 🙏🏻🙏🏻🙏🏻 Maaf mba, cuma saran aja yaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah. Makasi banget ya kak.
      Gk mungkin marah dapat input positif ini.
      Terharu dan senang

      Delete
  14. stunting ini ada pengaruh dari genetika juga nggak bu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gen hanya mempengaruhi 30% dr perkembangan mom.

      Delete
  15. Parenting di blog inI topiknya bervariasi keren banget, baeu tahu tata stunting... Mungkin jaman aku 4 sehat 5 sempurna x ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Klo di baca sampai tuntas lebih seru lagi pasti kak :)

      Delete
  16. Jadi orang tua emang kudu perhatian ama tumbuh kembang anak. Kasian anaknya kalo sampe ortunya lalai.. Makasih sharingnya, Des..

    ReplyDelete
  17. Nambah ilmu banget inih...
    selama ini, aku juga seperti Ibu-Ibu awam pada umumnya.
    "Gak apa-apa mungil...lucu, yang penting sehat dan cerdas."

    Ya Allah...baru tau kalau ini namanya stunting.
    Haturnuhun, mba Desy.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama sama mom :)

      Ayok segera di cek. Knp tidak ada kenaikan dan mungil

      Delete
  18. baru tahu istilah stunting lho kak, sampe googling

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gausah googling bang.
      Baca disini aja insyallah lengkap :)

      Delete
  19. Sharingnya lengkap dan informatif sekali. Wah Indonesia bakal mendapatkan bonus ledakan demografi, semoga saja anak-anak kita sekarang sudah disiapkan orangtuanya menghadapi hal itu. Jangan sampai diusia produktif anak kita malah jadi stunting.

    ReplyDelete
  20. Aku khawatir juga sama Chila soalnya udah hampir setahun BBnya nggak nambah-nambah.

    ReplyDelete
  21. pengabaian pertumbuhan itu yang masih sering kejadian di lingkungan keluarga dan masyarakat, asal lihat anaknya lincah dan jarang sakit ortunya santai, padahal pertumbuhan fisiknya lebih lambat dari yg seharusnya :((

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itulah bund.
      Kenapa kita harus aware sama stunting. Jadi pelan pelan bisa edukasi masyarakat jugaa

      Delete
  22. klu anak sy ga stunting
    cuma mungil hehehe
    tingginya standar cuma berat badan yg harus naik lagi
    makannya sih wajar cuma geraknya aktif
    di sekolah masih hobi lari larian dengan anak laki laki

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama kayak khalid.
      Tingginya standar. Tp bbnya batas bawah normal. Hehehe

      Delete
  23. anakku gak nambah-nambah berat badannya nih, hiks :(. Tingginya juga standar, tapi makan + minum susunya lahap. Mungkin karena aktif bergerak kali yaa?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa jadi mom.
      Atau cek pencernaannya.
      Konsul aja lngsung ke dsa mom

      Delete
  24. Alhamdulilah anak2ku justru kebalikannya, malah yang bungsu gejala obesitas, bahas tentang obesitas juga dong mba... watir juga nih sama yang satu ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biasanya aku nulis klo udah kejadian di aku mba.
      Hehehe
      Ini kmren khawatir sama khalid.
      Makanya lgsg kontrol ke dsa. Alhamdulillah. Bukan stunting.

      Klo nulis obesitas belum ada bahan. Hehhe

      Delete
  25. untuk diri sendiri saja kadanga engga memperhatikan nutrisi yang masuk;D

    ReplyDelete
  26. Betul banget, anakku pun sepertinya ga stunting. Tapi dari tahun ke tahun setelah di atas 4 tahun ini ssh naik berat badan karena sulit makan sayur

    ReplyDelete
    Replies
    1. Akalin dg bakwan mom
      Jamur goreng
      Brokoli krispy.
      Hehheheh

      Delete
  27. Mau komen lagi hihihi... btw aku baru ngeh loh dengan istilah stunting ini. Jadi nambah wawasan. thanks mba...

    ReplyDelete
  28. Ibu2 di kampungku nih kadang kurang perhatian kalau anaknya stunting. Pas ada posyandu harusnya rutin eh malah mandek. Katanya anaknya nangis lah, kalau ditimbang rese lah. Kasian aku tu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba.
      Salah satu masalah kita itu kurangnya edukasi kesehatan :(

      Delete
  29. Ibu hamil ikut mempengaruhi gejala stunting ya. Saya merasa saat hamil tuh, kondisi tubuh berada di kondisi yang paling sehat dan nyaman. Makan makanan sehat, seimbang dan bergizi, istirahat dan pemenuhan suplemen bervitamin, minum susu dan camilan sehat seperti buah. Kalau lihat ibu hamil ndak suka makan dan minum susu, kadang suka pingin bikinin susu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pengaruh banget mom.
      Ibu hamil malnutrisi beresiko melahirkan anak BBLR

      Delete
  30. Stunting memang masih jadi problem besar di Indonesia mba. Semoga bisa segera ditangani dengan baik

    ReplyDelete
  31. Halo mba. Makasih ya sudah menyampaikan banyak soal stunting. Awalnya banyak yang nggak ngeh ya kalau stunting itu memiliki dampak pada bangsa ini.Tapi moga tak meningkat ya mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin.
      Makasi juga sudah mampir dan baca mom :)

      Delete
  32. Stunting ini PR kita bersama.
    Aku jadi tahu banyak berkat BW.
    BW memang luar biasa manfaatnya ya, menambah wawasan.

    ReplyDelete
  33. Duh serem banget ya efek stunting ini. Anak keduaku mengalaminya tapi karena memang ada efek syndrom. Alhamdulillah walaupun sekarang tidak terlalu tinggi, tapi perkembangannya baik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah.
      Yg penting gizi tercukupi insyallah aman

      Delete
  34. Raihan anakku selalu dibatas garis dulu sempat khawatir banget, tapi setelah konsul dan melihat pertumbuhannya normal jadi sedikit lega

    ReplyDelete
  35. Waduh, malnutrisi bisa bikin stunting ya? Ternyata malah itu penyebabnya. Anak2ku nih kalau ke posyandu kadang suka di garis ijo yang bawah, paassss banget. huhuhuhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semangat mbaa !
      Ayok perbaiki pola makan dan kontrol ke dsa

      Delete
  36. Kebanyakan anak2 di kota bukannya gizi buruk tetapi makannya tidak seimbang.hiks

    ReplyDelete
  37. Aku jadi tau tentanh stunting ini dari tulisan para blogger. Kalo anak susah makan, harus pinter olah menu yaa ..

    ReplyDelete
  38. Stunting itu biasanya lambat diketahui, kecualo kalau dijejerin sama anam2 seusianya gtu.
    Kasus ini banyak terjadi emang di Indnesia ya mbak dan kabarnya blm ada pergerakan ke arah lbh baik. Tulisan2 blogger kyk gini moga membantu pemerintah utk bikin program2 yg lbh baik lg utk cegah stunting TFS

    ReplyDelete
  39. Masa depan bangsa memang terletak pada kualitas generasi penerus ya. Stunting bisa dihindari dg pemenuhan kebutuhan gizi anak sejak dari dalam kandungan.

    ReplyDelete
  40. aku baru tau kalo stunting ga hanya kerdil secara fisik, tp juga otak ya. Dan memang 1000 hr pertama itu menentukan. Smg makin byk org tersosialisasi ttg ini

    ReplyDelete
  41. Sedih kalo lihat masih banyak anak-anak yang stunting, semoga ke depannya stunting berkurang ya..

    ReplyDelete
  42. Makanya seorang ibu memegang peran penting paham nutrisi buat anak-anaknya ya

    ReplyDelete
  43. Aku baru tau tentang stunting pada anak, setelah membaca ini jadi tau banyak hal. Terima kasih untuk sharingnya ya, mbak

    ReplyDelete