Wednesday, September 19, 2018

#MamakSetrong-4 : Dilema Asisten Rumah Tangga



Yiha !
Kolab blog #MamakSetrong kali ini membahas PRT (Pembantu Rumah Tangga) yang saat ini sering di sebut ART (Asisten Rumah Tangga)


Tulisan kali ini, saya akan sedikit bercerita tentang ART yang mama saya miliki. Sejak awal saya di Batam, tahun 2002 selepas lulus SD saya langsung bertemu dengan ART. Sepanjang hidup saya sampai saya menikah mama saya tidak pernah lepas dari ART. Jangan dikira hidup kami kaya raya atau masuk dalam #CrazyRichSurabayan, Jaaauh mak ! jaaaaaauh ! hidup kami sederhana. Namun mama yang saat itu harus bekerja jadilah kami diurus oleh ART.

Saya pernah menangis terisak saat ART mama saya mengundurkan diri karena ingin menikah. Orang suku flores. Baik banget ! namanya Mba Sri. Apapun sukunya, panggilan kami adalah MBAK jika masih muda. Saya menangis meraung-raung, sediiih sekali di tinggal olehnya. Ini jaman saya SMP. Baru datang dari Jawa dan tidak banyak teman yang saya miliki. Mba' Sri inilah yang menemani keseharian saya.

Ada juga kisah ART, yang apabila ada jatah makanan untuk kami maka jarang sampai di kami (Saya dan adek saya) karena terlebih dahulu dia cicip dan suka, hingga nyicipnya bablas sampai habis. Kalau begini kadang saya ngambek. Karena biasa mama sudah menyiapkan makanan kami sebelum pergi di tinggal hitungan hari. Buah, lauk pauk, minuman dingin sudah mama sediakan. Akhirnya ART ini tidak bertahan lama.

ART terlama yang saya rasakan adalah bersama Lusi. Umurnya lebih muda dari saya. Telaten dan cekatan. Empat tahun lebih dia bersama kami. Hingga hapal baju-baju yang saya miliki. Awal hijrah berjilbab, dia yang membantu saya mensortir pakaian. Saat pulang dari bepergian, dia mengecek barang saya dan akan menanyakan barang yang tidak ada dalam tas saya. Kadang malah saya lupa, dia selalu ingat detail barang yang saya bawa. Saat saya jual tas atau jilbab semasa kuliah, dia kerap jadi model saya. Pokoknya serba bisa, mungkin karena masih muda. Jadi cekatan dan mudah menerima perintah. Hanya saja dia kurang dalam hal memasak. Tapi tidak masalah bagi mama, karena kami memang jarang memasak.

Hingga akhirnya saya menikah. hilang sudah segala kemudahan yang pernah saya rasakan. Bayangkan, memegang sapu saja belum tentu setahun sekali, mencuci baju apalagi, gosok ? jangan tanya ! saya hampir tidak pernah melakukannya seumur hidup saya sebelum menikah. Hal yang biasa saya lakukan adalah meminta, dan semuanya selesai.

Ternyata kebiasaan dengan ART ini membuat skill bertahan hidup saya payah. Saya bahkan tidak mengerti sama sekali bumbu dapur, kebersihan rumah dan memasak. Makin terasa saat kami memutuskan tinggal sendiri, memisahkan diri dari orang tua.

Hari-hari sulit sempat saya rasakan diawal saya harus terjun menjadi IRT adalah :

  1. Badan cepat lelah
    Padahal saya hanya menyapu rumah. Tapi seluruh badan saya sudah pegal-pegal. Tangan sakit, betis naik. Ah, saya benci melakukan pekerjaan rumah
  2. Tangan kasar akibat sabun 
    Bukan hanya kasar, namun sempat mengelupas. Saya tidak tahu bagaimana memilih sabun yang baik. Jargon iklan "Lembut di Tangan" ternyata tidak berlaku bagi saya. Tapi saya abaikan. Hingga sabun itu menjadi terbiasa di tangan saya. Tanpa meninggalkan reaksi apapun.
  3. Praktek memasak selalu gagal
    Sudah mengikuti resep dengan baik, namun ada saja yang membuat hasil masakan saya gagal. Sampai sekarang saya paling ogah jika recook kue. Karena potensi gagalnya besar.

  4. Gampang depresi dan uring-uringan kepada suami
    Awal kepindahan saya dan suami menempati rumah baru, bukan hal romantis yang kami lakukan. Tapi justru sering berantem. Siapa lagi yang memulai kalau bukan saya. Hal ini diakibatkan saya merasa lelah, sudah mencoba resep namun selalu gagal, membersihkan rumah namun tidak puas (merasa belum bersih) sedangkan apresiasi yang saya harapkan dari suami ternyata tidak ada. Jelas saja suami saya tidak bersikap berlebihan, karena baginya pekerjaan rumah adalah hal biasa. Sedangkan bagi saya pekerjaan rumah adalah hal berat dan baru ini saya lakukan. Ujung-ujungnya sering ngambek dan menangis. Hahahha

  5. Berharap pembagian pekerjaan
    Saya sampai sekarang paling benci membersihkan kamar mandi. Namun setiap kali suami membersihkan kamar mandi saya tidak puas. Seperti dinding tidak disikat, kloset belum kinclong, lantai belum bersinar. Alhasil saya sering mengulang membersihkan kembali kamar mandi walau mulut terus mengomel. Sesaat kemudian saya sadar, harusnya berterima kasih dan meminta dengan baik bagian yang ingin dibersihkan ulang. Suami paham, saya tidak uring-uringan. Begitupun pekerjaan lain, saya ingin suami mengambil peran. sering berkata "A bagian Abang, ya !" tapi saya sering ragu akan hasilnya. Terakhir saya berupaya mengerjakan sendiri dan hasilnya mulut saya tidak berhenti mengomel. Wkwkwkwkwkw
Jika ingin di paparkan, sesungguhnya banyak air mata diawal saya menjadi IRT. Namun saya menyadari bahwa IRT itu sebuah profesi. Butuh sikap profesionalisme dalam menjalaninya. Hal dasar namun paling penting menurut saya adalah IKHLAS. IRT itu ladang jihad. Tidak perlu keluar rumah, hanya mengerjakan pekerjaan rumah seorang ibu sudah di hitung Jihad oleh Alloh. Ditambah lagi puasa Ramadhan, Sholat wajib dan patuh pada suami maka seorang Istri bebas memilih masuk melalui pintu mana saja untuk menuju Syurga. Enak kan ? Karena Alloh paham, bahwa pekerjaan didalam rumah itu sama beratnya dengan berjihad. Jadi jika tidak mengharap Ridho Allah dan Suami, niscaya akan ribut setiap hari. Hahahhaha


Berbekal pengalaman dan kebodohan saya dalam mempersiapkan diri menuju pernikahan. Maka saya dan suami sepakat meniadakan ART dalam keluarga kami. Pembagian tugas yang kami butuhkan. Saat merengek minta disediakn ART atau diskusi tentang ART selalu deadlock. Suami tidak melihat ada hal urgen hingga membutuhkan ART. Perlahan saya menyadari, rasanya risih juga jika ada orang lain berada di rumah. Kecuali Part Time ART, mungkin suami mempertimbangkan. Itupun dengan syarat, saat dia pulang kerja tidak ada orang asing dalam rumah kami.

Nah, karena saya sudah pernah memiliki ART sebelum menikah. Ada baiknya IRT mempertimbangkan hal ini saat ingin menggunakan jasa ART :
  1. Privasi
    Hadirnya orang ketiga dalam rumah tangga, bukan hanya pelakor maksud saya. Tapi juga ART maka sedikit banyak rahasia "dapur" Rumah tangga akan diketahui orang lain.
  2. Kenyamanan dalam berinteraksi
    Biasa leluasa bercanda dengan anak dan suami dengan pakaian seadanya. Maka jika hadir ART harus mempertimbangkan asas Sopan Santun

  3. Pembelajaran Anak
    Anak butuh diasah skillnya untuk bertahan hidup. Walau suami berpendapat skill hidup itu bisa mereka pelajari saat harus menjalani hidup seorang diri, namun bagi saya perlu diajarkan dan diasah kemampuan ini. Hingga waktunya tiba, mungkin menikah atau kuliah jauh dari orang tua mereka sudah sigap dan tidak kaget dengan ritme rumah tangga.
  4. Budget
    Tidak dapat dipungkiri, menggunakan jasa ART berarti menambahkan budget. Bukan hanya dari segi gaji. Namun juga biaya hidup ART. Kitalah yang menanggung semua kebutuhan ART. Karena selain gaji, dia juga berhak atas hidup layak.
  5. Mencari yang jujur semakin langka.
    Banyak berita negatif tentang ART yang kita dengar baik dari surat kabar maupun TV. Ada yang tega memukul anak majikan, ada yang tega nilep perhiasan, hingga pacaran sembunyi-sembunyi dirumah kita. Serem ! sebaiknya sebelum menggunakan jasa mereka, kenali dulu perilakunya.
Bagaimana Mak ?
Menggunakan jasa ART atau semangat menghimpun pahala melalui jihad dari dalam rumah ?
Semua ada plus-minusnya. Tidak ada yang salah atas setiap pilihan. Namun setiap pilihan mengandung konsekuensi.

Baca juga kisah sahabat saya, partner kolab blog ini : Ummi Juli : Anakku, Asisten Rumah Tangga ? dan Bubun Unna : Pentingkah ART?

Semangat !!
Share:

39 comments:

  1. Dulu pas SMP mamaku pake ART, datang pagi plg sore. Trs SMA aku bagi tugas, aku bagian nyetrika di hari minggu. Pedih. Sekarang musuhan sama strikaan, alhamdulillah di dkt rmh ada yang bantu nyetrika. Mayan bagi2 rejeki, kalo keerjaan rmh lain msh OK. Ga sesinis sama setrikaan. Wkwk

    ReplyDelete
  2. saya tim pengen menghimpun pahala jihad dari rumah aja deh heheh lagian budget ART bisa dipake buat yang lain, buat jajan makeup misalnya *eh

    ReplyDelete
    Replies
    1. setujuu..
      mayan bisa ngemall sambil main playground ya mba

      Delete
  3. Aku juga sekarang apa-apa ngerjain sendiri mak. Ada plus minusnya emang pakai jasa ART. Yang jelas kalau gak ada, jadi lebih perhatian sama rumah hahaha

    ReplyDelete
  4. Di daerahku, masih jarang banget yang pake art, kalo punya art berarti dia adalah orang kaya, hehehe

    ReplyDelete
  5. betul mba ada ART sama ada orang ketiga, aku ga tau yah saat ini aku masih jadi working mom. Pembantuku kerap kali adukan sesuatu yang ga enak jadi gimana yah saya masih butuh tapi dy begitu belum lagi suka ambil korek api wkwkwk...ya sudahlah karena saya juga paling capek kerjain kerjaan rumah makanya masih hire dy

    ReplyDelete
  6. sesungguhnya aku menikmati hidup tanpa ART hehehe...ngga pusing, Mba. Untuk pekerjaan kami berbagi dengan anak-anak dan suami, jadi tidak terlalu berat.

    ReplyDelete
  7. poin no.1 dan 2 iyaahh banget deh Mbak, saya juga jadi gimanaa gitu klo ada orang lain di rumah *kecuali keluarga sendiri siih.. keluargaku tepatnya. klo dari keluarga suami pun juga rada risih gimanaa gituuu.. apalagi dgn ART.

    selanjutnya 3 hingga 5 juga setuju bangeeeet.

    ReplyDelete
  8. Akhirnya merasakan ya, setelah lepas dari ART yang biasa membantu, hehehee. Alhamdulillah sejak kecil bapak dan ibu udah ngajari dan ngajak anak anaknya membantu pekerjaan rumah. Pernah juga merasa payah setelah lama punya art trus artnya resign, ugh, badan lekas lelah juga, tp ya dinikmati sajalah. Semangat ya, Mbak

    ReplyDelete
  9. Dari awal nikah kita sepakat tidak memakai ART, jadi saling bagi tugas aja dan alhamdulillah 11tahun sudah berjalan

    ReplyDelete
  10. Pengalaman kita sama, mbak. Di rumah ortu pake ART, akhirnya waktu tinggal sendiri jadi kewalahan tapi lama-kelaman akhirnya terbiasa dan gak pernah mau pake ART

    ReplyDelete
  11. kisah soal art itu selalu menarik soalnya tiap orang punya kisah unik sendiri-sendiri. akupun gitu pas kecil ibu beberapa kali pekerjakan ART pas beliau sakit. Susah bener cari yang kerjanya bener. Ada yang sukanya minta barang-barang di rumah, ada yang hobi nyolong, ada yang hobi dandan. Makanya sekarang aku punya Art pocokan tapi jujur banget kudu dieman-eman

    ReplyDelete
  12. Aku udh lama gk pake ART krn pertimbangan budget. *Curcol haha

    ReplyDelete
  13. Wah mirip Mbak, pengalamannya dengan saya. Jaman saya kecil juga terbiasa dengan asisten, sehingga canggung saat mengerjakan pekerjaan rumah tangga sendiri. Namun makin ke sini makin menikmati tanpa ART juga, karena maslaah privacy :)

    ReplyDelete
  14. Saya ribadi lebih suka tanpa ART. Pernah beberapa kali pakai ART. Capeknya jadi dobel. Capek fisik dna capek hati hehehe

    ReplyDelete
  15. Saya tak pernah punya ART. Apalagi waktu belum menikah, di rumah mama saya banyak saudara yang numpang maka jadilah mereka yang kerja.

    ReplyDelete
  16. Aku juga tangan nggak kuat sama detergen, kering banget lalu ngelupas. Jadi hubby ambil tugas cuci baju, aku yang nyetrika.

    ReplyDelete
  17. Saya tidak pernah punya ART eh belum sih tepatnya. Dari kecil mama selalu mengerjakan segaal sesuautunya sendiri. Saya, kakak, dan adik-adik dibagi tugas dan diajarkan untuk mandiri. Semangat ya, Mba :)

    ReplyDelete
  18. Aku ga pakai ART, mbak. Pengalaman sekalinya coba pakai ART eh dia bohong. Yaudah jalanin bagi tugas dengan suami aja.

    ReplyDelete
  19. Seperti "disentil" pada bagian ini:

    "IRT itu ladang jihad. Tidak perlu keluar rumah, hanya mengerjakan pekerjaan rumah seorang ibu sudah di hitung Jihad oleh Alloh. Ditambah lagi puasa Ramadhan, Sholat wajib dan patuh pada suami maka seorang Istri bebas memilih masuk melalui pintu mana saja untuk menuju Syurga. Enak kan ? Karena Alloh paham, bahwa pekerjaan didalam rumah itu sama beratnya dengan berjihad. Jadi jika tidak mengharap Ridho Allah dan Suami, niscaya akan ribut setiap hari."

    Untung BW ke sini ^^

    ReplyDelete
  20. Kalau sebagian besar bisa dipegang sendiri, pakai ART memang kurang perlu. Kadang rada2 gimana kalau ada berita ART macem2 di rumah majikannya pas gak ada di rumah

    ReplyDelete
  21. Aku masih mundur maju mau pakai ART akhirnya sejka nikah sampai skr belum punya ART

    ReplyDelete
  22. DI rumah mamah, nggak pernah pakai ART, semua dikerjakan anggota keluarga, jadi pas nikah pun nggak pakai ART

    ReplyDelete
  23. Suamiku juga ga mau ada ART nginep karena risih. Aku juga udah ga pake ART supaya banyak bergerak hehe

    ReplyDelete
  24. Trus Mbak Lusi masih jadi ART di tempat mamanya ngga, Mbak? Atau udah menikah juga sekarang?

    Seneng ya kalau punya ART yang cocok, apalagi kalau seumuran, jadi punya teman. 😊

    ReplyDelete
  25. Hmm. .Ya, semua ada plus minusnya ya. Kalo sekarang aku pilih tanpa ART buat ngelatih anak2 yg udah makin besar

    ReplyDelete
  26. Aku kelimpungan karena waktu jadi anak dimudahkan dengan ART mba, tapi tetap yah ada ART anak-anaknya kudu mandiri, itu yang saya mau ajar anak-anak juga mba.. tapi dulu ibukk saya saklek banget, kalau saya gak bisa se setrong mamak saya makanya mending ditiadakan aja.. hiksss

    ReplyDelete
  27. Dari kecil saya memang tidak ada pembantu mbak dan waktu menikah pun saya dan suami sepakat tidak mengambil pembantu. Salah satu sebabnya adalah hilangnya privacy di rumah ya. Sungkan ada org lain di rumah. Apalagi suami saya itu sering banget ngagetin saya dari belakang, takut salah orang katanya hihi

    ReplyDelete
  28. Heuheuu~
    Aku bisa tanpa ART hanya pas saat kepepet.
    ART pamit mau pulang lebaran.

    Selebihnya,
    Aku masih pakai jasa beliau.

    Dan ART ku datengnya 2 hari sekali.
    Hihhii...tetep punya privacy, in syaa Allah.

    ReplyDelete
  29. Aku sejak nikah sampai sekarang belum pernah pakai ART mbak..Alhamdulillah suami masih mau bantu-bantu aku di rumah :)

    ReplyDelete
  30. Mbak, ini sedikit curcol ya, kalau aku semakin giat bekerja (ngurusin urusan rumah tangga), kok tanganku malah halus ya? Atau jangan2 ini oerkara sabunnya yang cocok di kulit? Hihi

    ReplyDelete
  31. aku banget mengalami saat resign belum ada ART badanku cepat lelah dan kalau udah Maghrib emang pengennya langsung cepat tidur hehe

    ReplyDelete
  32. Menggunakan jasa ART atau semangat menghimpun pahala melalui jihad dari dalam rumah ? --> Mba, maaf kalimat ini bisa multitafsir loh, apalagi kalau yg baca ibu bekerja, ntar dikiranya klo kerja ke luar rumah tidak berjihad menghimpun pahala hehehee...

    ReplyDelete
  33. Afufuu..SRT anak bunfs bersrti hrs flt medali as nih, karena kl gsk disodorin makanan gak bakalan dia vomot. Bageur pisan. Behitu juga ketika bunda kerja anak 4 ART juga 4 #sombongamat haha.. semua pada betah, loyal, pinter n resik.

    ReplyDelete
  34. Ibukk kece mah. Bilangnya ga pernah masak tapi sekarang survive banget dia menghadapi tantangan hidup ini. Dah jago masak dan selalu bersih hehe

    ReplyDelete
  35. Banyak cerita soal ART ya Mbak. Saya apalagi, siang kerja di luar rumah, malem kerja di rumah. Bangga nya dobel kalau kerjaan bisa kekerjain semua

    ReplyDelete