Thursday, August 30, 2018

#MamakSetrong-3 : Body Shaming, Mengapa Bisa Terjadi ?


Kembali lagi menulis kolaborasi blog Mamak Setrong setelah sekian purnama di lewati. Formatnya sudah baru, bukan lagi berisi 3 mamak-mamak dari Batam. Tetapi 2 Mamak Batam, 1 sudah hijrah ke Surabaya. 

Kali ini kami membahas Body Shaming. Sudah familiarkah dengan Body Shaming ? Atau bahkan ada yang belum tau artinya ? Body Shaming adalah mengomentari fisik seseorang. Baik kekurangan fisik, kelebihan maupun citra diri seseorang. Nah faktanya, body shaming bukan hanya dilakukan oleh orang lain kepada kita, namun kita sendiri pun tanpa sadar kerap melakukan body shaming terhadap diri sendiri bahkan anak.

Saya akan lebih memfokuskan pembahasan body shaming terhadap anak-anak. Sebagai orang tua, sulit rasanya menahan diri untuk tidak berkomentar atas fisik anak orang lain. 
"Wah, gemuk ya !"
"Ih ! Kurus banget !"
"Loh, kok iteman ?"
"Kok pendek ? Awas kena stunting !"
"Dekil banget sih, urusin lah anaknya. IRT aja pun"


Pernah mendengar kalimat-kalimat diatas ? Atau jangan-jangan kita sendiri yang mengucapkan tanpa sadar ? Seringnya kita tidak memperhatikan. Bahwa setiap ucapan kita akan berakhir di telinga dan hati seseorang. Ada yang sudah siap menerima, ada yang butuh berhari-hari untuk menghapus sakit hati akibat lontaran ucapan kita.

Lalu, bagaimana Body Shaming bisa terjadi ? :
  1. Berlebihan dalam bercanda
    keasyikan ngobrol, hingga lupa mengatur kalimat. Merasa bahwa partner bicara kita akan memaklumi setiap ucapan kita, dengan alasan becanda. Maka terlontarlah kalimat " Mak ! Kok Kurus kali anakmu" Dia tidak tahu, bahwa sang Ibu ini baru kembali dari ahli gizi dan dokter anak. Untuk konsultasi mengenai berat badan anak. Hinggalah ibunya sedih, dan semakin memaksakan segala jenis makanan pada anaknya yang justru berujung pada penolakan karena anak merasa jengah di tawari makan terus.
  2. Sapaan Basa- Basi yang Salah
    Ini juga sering dilakukan oleh sebagian besar kita. Bertemu dengan sahabat lama yang menggandeng anaknya seketika spontan berkata " Loh, Anaknya kok iteman ?" kemudian berujung pada si sahabat lama ini mati-matian merawat anaknya dari kulit hitam. Melarang anaknya bermain di luar. Hingga ia mengurung terus anaknya di dalam rumah karena takut anaknya hitam. Dahsyatnya sebuah sapaan basa-basi yang salah.
  3. Menyamakan Presepsi Fisik Anak
    Anak sehat identik dengan tubuh berisi, kulit bersih, aktif, tinggi semampai dan berambut lurus indah. Padahal itu anak sehat versi kita. Ada juga yang merasa anaknya sehat, walau tubuhnya tidak setinggi dan berisi anak pada umumnya. Ada juga yang anaknya pendiam namun tetap sehat. Standar setiap ibu berbeda, jadi jangan pernah menyamakan dengan versi kita.
  4. Memanggil dengan sebutan fisik
    Apa yang terjadi pada fisik anak sama sekali bukan permintaan anak. Hal itu adalah anugerah yang telah Tuhan berikan. Anak saya pernah mendapat panggilan yang menurut saya tidak pantas. Seperti Si Botak, Jenong, Kicik (Kecil) dan sebutan fisik lainnya. Saya harus berdamai dan berlapang dada saat berhadapan dengan orang seperti ini. Apalagi jika orang tersebut belum memiliki anak.
  5. Memotivasi dengan kalimat salah
    Niat hati ingin memotivasi diri dan anak. Justru kita malah melakukan body shaming. "Jangan gendut-gendut nak ! Liat tu si abang susah gerak !" atau malah menghina "Jangan main panas-panasan ! Mau hitam legam kayak si itu ?"  pernah mengucapkan kata-kata sejenis ini mak ?
Jika ditelusuri, ini lah awal mula bullying terjadi. Anak terbiasa mendengar penghinaan fisik seseorang.  Baik yang ditujukan kepadanya maupun kepada anak lain. Maka ia akan terbiasa mengatakan " Lihat itu ! Si hitam lagi main" kemudian mentertawai temannya yang memang berkulit hitam. 

Bagi saya, kita tidak bisa mengatur mulut setiap orang yang kita jumpai. Namun kita bisa mengatur bagaimana cara kita bersikap. Dan tentunya kita harus memutus kebiasaan body shaming ini. Berikut tips dari saya bagaimana bersikap agar tidak melukai hati anak dan diri kita saat menghadapi body shaming :
  1. Jangan Diam
    cara efektif untuk menghentikan body shaming adalah menjawab setiap lontaran ucapan mereka. Karena dengan diamnya kita maka mereka akan merasa bahwa apa yang dia ucapkan benar. Salah satu yang sering saya ucapkan ke anak atau ke diri saya saat Khalid mendapat body shaming dalam hal warna kulit. Maka saya akan menjawab "Alhamdulillha, masuk syurga gak dilihat dari warna kulit" Biasanya yang berbicara akan langsung terdiam.
  2. Ganti Panggilan dengan Nama Anak
    Saat anak dipanggil dengan menggunakan ciri fisiknya, maka katakan bahwa nama anak bukan itu. "Namanya Khalid, Om !" Katakan dengan tersenyum namun penuh penekanan. Jangan biarkan anak kita menerima pelabelan tersebut dan secara tidak sadar dalam hatinya mengiyakan.
  3. Biasakan Anak Untuk Membela diri
    Tidak selamanya anak berada dalam pengawasan kita. Ada kalanya ia akan bermain sendiri bersama teman-temannya. Jadi perlu bagi anak untuk membela diri. Jika ia mendapat perilaku tidak menyenangkan, katakan pada anak untuk melakukan pembelaan diri. Misalnya dia dipanggil dengan sebutan kasar atau hal tidak menyenangkan lainnya. Jangan lupa ajarkan anak untuk senantiasa bercerita pada kita setelah dia bermain dengan teman-temannya. Jadi kita bisa menyusun langkah antipasi saat hal itu terulang kembali.
  4. Hormati Anak
    Walau anak masih kecil dan belum dewasa, kita pun harus menghormatinya. Perlakukan dia dengan baik. Maka ia akan memperlakukan orang lain dengan baik pula. Biasanya memanggil dengan sebutan indah dan sesuai namanya. Begitupun memuji, pujilah sifatnya bukan fisiknya.
  5. Biasakan Meminta Maaf
    Jika sudah terlanjur mengucapkan kata-kata body shaming tanpa kita sadari, lakukan permintaan maaf. Dan katakan hal sebaliknya. Meminta maaf adalah cara jitu untuk mengubur luka. Bagaimanapun kita sudah terlanjur mengucapkan hal buruk.
Semoga dengan adanya tulisan ini mampu meredam segala bentuk body shaming yang pernah kita lakukan. Sudah seharusnya kita berhenti menilai fisik seseorang. Dan cukuplah, jika bukan bagian dari urusan kita berhenti berkomentar.

Seru kan membahas body shaming ?
Ternyata body shaming itu banyak bentuknya. Yuk baca juga cerita dari teman kolab saya Cerita umi dan Bubun Unna.

Semoga menginspirasi ya, Mak !
Share:

12 comments:

  1. wah.. sering nih saya basa basi dengan bentuk fisik orang atau anak.. ternyata itu body shaming ya.. harus sadar nih...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba.
      mesti merubah cara basa basi
      hehhe

      Delete
  2. Masih banyak orang yg ga sadar kak sola komentar apapun tentang bentuk fisik orang lain, yang sayangnya malah dilakukan sesama perempuan. Seperti tidak ada bahan pembicaraan lain yang bisa di angkat, mesti banyak di edukasi emang nih, nice artikel kak!

    ReplyDelete
  3. Yang sering tu saat kumpul sama teman yang lama tak berjumpa pasti basa-basinya tentang fisik, dan ternyata mungkin tanpa kita sadari membuat si kawan tersinggung ya, jadi lebih hati" skarang dalam bercanda apalagi menyinggung fisik. Thankss ka atas sharing nya

    ReplyDelete
  4. zaman anak2 dulu kita nggak terlalu ambil pusying dgn body shaming...sekarang jaman udah berubah. dunia psikologis kian jeli dan sensitif. body shaming yg dulu terasa biasa sekarang udah jadi bibit bullying

    ReplyDelete
  5. Catatan penting nih.
    Kadang org ga sadar udh body shaming, pdhl ini pengaruhnya besar lho.

    ReplyDelete
  6. Bener banget tuh, jangan manggil nama orang dengan bentuk fisik... Ga baik tuh

    ReplyDelete