Friday, April 6, 2018

,

#CakapMamak-1 : Anakku Aturanku


Yeay !
Sekarang setiap Jumat ada jenis postingan baru loh di blog ini. Kolaborasi dengan Ika Maya Susanti yang dulu pernah ngajar di Poltek jaman saya masih bergabung dengan Poltek.

Kolaborasi ini akan hadir setiap jumat dengan membahas tema berbeda setiap minggunya. Jadi akan ada hal baru terus setiap jumat. Kami akan membahas satu tema sesuai dengan sudut pandang kami masing-masing. Tema kali ini adalah : Anakku, Aturanku. Masih seputar anak, karena dunia kami tidak bisa lepas dengan anak. Mamak-mamak !


Kami menggunakan #CakapMamak sebagai tagline kami. Sesuai dengan jiwa mamak-mamak, belum sah kalau belum cakap banyak-banyak alias mrepet. Tentunya mrepet yang berfaedah. Hahaha


Jadi mari kembali ke tema, Anakku Aturanku.

Ada banyak peraturan yang mungkin agak sedikit aneh bagi sebagian orang. Jauh sebelum Khalid lahir Ayahnya sudah menerapkan beberapa peraturan yang saya sendiri saat mendengarnya mengernyitkan dahi. Ada beberapa peraturan (Semoga menginspirasi) tentang Khalid yang kami terapkan. Boleh jugak ya mak kalau mau diskusi dan berbagi peraturan berfaedah lainnya.

  1. Khalid hanya akan diasuh oleh Ibunya.
    Ini adalah peraturan Ayahnya. Jadi mertua dan orang tua saya itu semua di Batam. Bisa aja dengan gampang saya menitipkan Khalid ke orang tua dan bekerja dengan leluasa. Namun Ayahnya berpendapat lain, baginya pendidikan dan pengasuhan terbaik adalah Ibunya. Maka saya mengajukan resign tepat di hari pertama saya masuk kembali setelah cuti melahirkan. Surat pengunduran diri saya dengan jelas saya menulis bahwa saya tidak mampu menyeimbangkan antara pegawai Bank dan peran Ibu. Mesti banyak yang menyayangkan, sekarang saya sudah 2 tahun lebih menjadi IRT.

  2. Tidak ada TV di rumah
    Awalnya ini adalah peraturan ayahnya. Namun saya mendukung penuh peraturan ini. Demi menegakkan peraturan ini, maka kami harus memisahkan diri dari tinggal dengan orang tua kami. Kami memulai hidup sendiri dengan kemampuan masak saya NOL kala itu.

  3. Tidak ada Komentar atas setiap makanan yang Khalid Coba
    Ini terkait dengan pola makan. Asal halal dan baik, maka kami tidak akan memberikan komentar negatif tentang yang dimakan Khalid. Harusnya ini saya coba juga dengan cabai, namun dari awal saya sudah memberikan stigma negatif bahwa cabai itu pedas dan tidak enak. Hasilnya sampai sekarang Khalid anti pedas. Jika ia memakan daun kemangi tanpa nasi dan lauk, saya hanya berucap "Wah, enak ya nak !" dia akan dengan lahap makan daun kemangi. Walau saya sendiri tidak sanggup makan daun kemangi tanpa nasi dan lauk. Saat ia mengunyah bawang putih di masakan Ayam Bawang, maka kami hanya melihat dan bertanya "Khalid suka ? Sedap ya !" tanpa memberikan opini. Walau kami sendiri melihat ia mengunyah bawang putih agak merinding. Hahahha

  4. Menjaga Penampilan Anak
    Saat saya mengikuti wirid ibu-ibu komplek, kondisi Khalid belum mandi. Kemudian suami berkata "Jangan hinakan anak dengan penampilan awut-awutan. Cek bajunya, bagian tubuhnya, baunya" ujar suami protes saat saya membawa Khalid tanpa memandikannya terlebih dahulu. Memang sejak bayi saya rajin men-sortir baju Khalid. Warna pudar dan kain molor ini biasanya sudah saya bungkus dan pisahkan. Apalagi yang sempit. Bukan karena banyak duit atau berlaku sombong. Namun kami meyakini bahwa anak pun ingin berpenampilan menarik. Tidak harus bermerk, namun kami memastikan enak dipandang mata. Terkhusus di mata orang tuanya.

  5. Khalid tidak akan Sekolah
    Jauh sebelum Khalid hadir di rahim mamaknya, Ayahnya sudah mempunyai keinginan bahwa anak-anaknya tidak akan sekolah umum. Jadilah Khalid menempuh pendidikan Homeschooling alias sekolah di rumah. Segala pendidikan yang Khalid terima akan di kawal oleh Ayah dan Ibunya, walau pasti kelak Khalid membutuhkan guru, dosen dan profesor.
Nah, itu beberapa peraturan yang kami terapkan hingga sekarang. Jika ada hal yang dirasa tidak baik, tidak usah di contoh ya Mak. Namun jika bisa diambil manfaatnya, bolehlah kita berdiskusi. Karena ini adalah postingan Kolaborasi Blog, maka jangan lupa ya kunjungin juga anakku-aturanku versi Mak Ika. Ssstt,, Anaknya Mak Ika ini pejuang penyakit TB loh. Yuk Baca ceritanya :)
Share:

40 comments:

  1. Cakeepp nih aturannya..
    Klo Thole aturannya apa y.. Kyknya blm ada aturan saklek smp skrg ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha
      Gpp mba
      Yang penting anaknya sholih.
      Aamiin

      Delete
  2. waw keren sekali si ibuk aturannya.. barokallah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Barakallahu fiik.
      Masyallah.
      Smoga bermanfaat ya.
      Hehhe

      Delete
  3. Replies
    1. Masyallah.
      Terima kasih mba lilies :)

      Delete
  4. Mantab ibuk 😃👍👍

    ReplyDelete
  5. Aturan ga sekolah dan ga ada tv aku mupeng, tapi diskusi masih panjang dengan sang imam, hahahjs

    ReplyDelete
    Replies
    1. Smoga menginspirasi mba.
      Smoga dimudahkan.
      Hehehhe

      Delete
  6. Untuk yg belum punya anak, peraturan ga punya TV lumayan ekstrem yah kak.
    Tapi menimbang suguhan informasi belakangan ini kayanya bagus juga buat tumbuh kembang anak.
    Menarik! Semangat terus kak menginspirasi calon ibu kaya aku :3

    ReplyDelete
    Replies
    1. karena TV bisa mencederai kerja otak.
      hehehe
      makanya di putuskan untuk tidak berhubungan.

      Delete
  7. kenapa harus homeschooling jika bisa sekolah ditempat yang semestinya anak2 rasakan, agar dia bisa lebih bisa berinteraksi dengan banyak orang ? apa gak menculik hak kebebasan anak itu namanya mak ?? di point terakhir ini rada sedih aja rasanya...karena terkesan mengekang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Insyallah enggak kak.
      Karena dengan HS mrk justru lbh bebas berekrpesi.
      berinteraksinya tetap bisa dilakukan. Ada komunitas HS, ada lembaga les, lembaga pengembangan bakat dll.

      dan ini untuk melindungi Fitrah anak.
      agar kuat sebelum terkontaminasi
      Insyallah.
      hihihi

      makasi kak sudah mengutarakan pendapat :)

      Delete
  8. Keren ibu Dessy dan suami sudah mengazamkan akan menghomeschoolingkan Khalid dari jauh2 hari. Saya dan suami masih maju mundur cantik, setidaknya kami sepakat hingga tidak perlu Paud atau pendidikan serupa sebelum sekolah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener Mba,
      kalau bisa sama kita dan lebih banyak manfaatnya bersama kita. Kenapa harus dilepas kepada pihak ketiga ?
      hihihhhi

      Delete
  9. subhanallah.... menginspirasi sekali mbak

    ReplyDelete
  10. bintang-bintang-bintang ini mah.... patut dicontek

    ReplyDelete
    Replies
    1. Barakallah :)
      Semoga bermanfaat ya Mb Lumi

      Delete
  11. Replies
    1. Terima kasih sudah berkunjung bang Chai

      Delete
  12. Wah ternyata temenan ama Ika Maya Susanti ya. Haha. Aku ketemu Ika dulu sewaktu dia masih jurnalis Tribun Batam.

    Btw, ibu dan bapak memang patut dan selayaknya membuat aturan-aturan yang jelas dalam rumah tangganya, tidak dan bukan life like a river flow.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener Teh.
      Agar hidup tidak terombang-ambing di arus sungai.
      hihihi

      Delete
  13. Aturan nomer 3 bikin aku merinding juga.. Hehehe

    ReplyDelete
  14. menginspirasi mbak des..

    semangat berjuang untuk keluar dari zona nyaman kita yak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semangat Mb Un !!
      Sama-sama berjuang kita.

      Delete
  15. Tak ada TV bagaimana mamak mamak update gosip artis dan opera sabun turki

    ReplyDelete
  16. Wah keren banget mank.. aturan ortu pasti yang terbaik

    ReplyDelete
  17. Great parenting Mom Desy.... Point homeschooling yang saya agak kurang setuju.. hehehe bolehkan ya kurang setuju.... Menurut saya anak2 perlu lingkungan umum (sekolah) untuk mempersiapkannya agar lebih mengenal sosial secara luas dan tidak inclusive.... (just my opinion)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gpp Bu.
      bener, anak butuh mengenal sosial secara luas.
      bisa di dapat dari interaksi dimana saja.
      tidak tertutup hanya sekolah.
      hihihihi

      Delete
  18. aturan dibuat untuk membuat keteraturan
    keren ih kakak aturan nya

    ReplyDelete
  19. luar biasa aturannya
    yang saya ga mampu itu untuk ngajar anak sendiri
    masih butuh orang lain, guru dan ustadzah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Butuh orang lain pasti kak.
      Ada saatnya juga Khalid butuh guru selain orang tuanya.
      hihihihi

      Delete
  20. Aku mah kalau ditanya kenapa harus HS, soalnya biar anak enak nggak dapat PR, bisa temenan sama banyak orang nggak yang kebanyakan temen sekolah dia aja. Cuman... bojoku sendiri juga nggak mau anaknya HS. Hahaha... Kadang di satu sisi aku let it flow meski akan tetap keukeuh dengan apa yang aku pengenin dari awal.

    ReplyDelete