Friday, March 16, 2018

Parentalk : Bagaimana Sosialisasi Anak HS ?


Berkesempatan berkunjung ke Poyotomo dalam family trip membuat kami para orang tua memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk berdiskusi. Jarang sekali bagi kelompok kecil kami dalam Keluarga Homeschooling Muslim Batam berkumpul dalam format lengkap. Terhitung ada 6 orang yang artinya ada 3 pasang suami istri. Kami memang merencanakan diskusi malam ini. Istilah bekennya Parentalk. Kami diskusi mengeluarkan unek-unek. Mulai dari asal mula kenal Homeschooling hingga mantap menjalani proses pendidikan ini untuk anak-anak kami.

ful tim Keluarga Homeschooling Muslim Batam
Parentalk malam ini di moderatori oleh Pak Awal. Suami dari blogger kece favorit saya, Mba Unna. Kami menyimak prolog dengan seksama. Benar kata orang, jika ingin mengenal dekat temanmu, maka ajaklah Ia melakukan perjalanan bersama. Saya agak surprise dengan kedewasaan Pak Awal. Ternyata pemikirannya dalam dan penuh perhitungan.

Dimulai dari pertanyaan sejak kapan mengenal HS (Homeschooling) mengalirlah diskusi kami malam itu. Mendapat jatah untuk berbicara duluan adalah Pak Taufik alias Pak Suami. Kami memang paling duluan mengenal dan bertekad menjalani HS ini. Suami bahkan memutuskan HS sejak sebelum menikah. Salah satu pesonanya yang sulit ditolak kala itu saat ia mengajak menikah adalah pengajuan sistem pendidikan yang dia tawarkan kepada saya dan anak-anak kami kelak. Walau ragu dengan kemampuan diri, namun saya yakin mengikutinya.

Saat Para Mamak berpose

Usia pernikahan kami paling muda diantara 3 ketiga keluarga ini. Kami pun baru memiliki satu putra. Praktis kami kalah di pengalaman. Selanjutnya kami membicarakan kendala-kendala yang dihadapi bagi praktisi HS.

Kendala yang biasanya sering muncul di permukaan adalah sosialisasi anak HS. Bagaimana ia menemukan teman, bagaimana ia berinteraksi, bagaimana menumbuhkan sikap luwes saat bertemu dengan teman, bagaimana membangun aksi sosial dan bagaimana ia mampu bekerjasama dengan teman padahal ia sekolah dirumah tanpa teman.

Kadang kita sebagai orang tua lupa, bahwa teman sesungguhnya anak adalah orang tuanya. Kitalah yang menawarkan pertemanan terlebih dahulu. Tak melulu kan kita bertindak sebagai orang tua yang omongan selalu di dengar ? Saat bermain peran kitalah teman beraktingnya. Saat membaca buku, kitalah yang dimintanya untuk membacakan buku. Saat anak bercerita, kitalah temannya untuk mendengar. Jadi kami sepakat, interaksi sosialisasi anak HS bukanlah masalah.

Asyik bermain air

Bagaimana kami mengatakan itu sebuah masalah, jika pergaulan anak TK sekarang dengan mudah membully temannya ? Dengan mudah membentuk geng, dengan mudah mengatakan ingin punya pacar ? Duh. Jika sosialisasi anak yang ditawarkan seperti ini. Saya akan dengan sigap menutup akses anak saya untuk berteman dengan anak jenis ini.

Bukan sombong, ini demi menjaga fitrah anak. Saya merasa tidak mampu membersihkan pemikiran anak saya yang sudah tercemar sebelum memiliki pengetahuan yang cukup atas apa yang dia ucapkan. Maka dari itu, Saya selalu mengikuti kemana anak saya bermain saat outdoor activity. Saya paham, bahwa anak masanya adalah bermain. Kecerdasan mereka sedang berkembang pesat. Ia cepat menangkap kalimat negatif, cepat antusias terhadap hal baru dan memiliki rasa penasaran tinggi. Maka tak mungkin saya terus mengurung Khalid agar selalu dirumah dan mati-matian memfilter pergaulannya tanpa menanamkan bekal agar ia siap bersosialisasi dengan lingkungannya.

Saling menjaga antar keluarga
Saat ini sudah banyak lembaga keren di Batam. Ada yang terfokus pada Engineering, kelompok renang, kelompok panah, kelompok bela diri, kelompok menggambar dan kelompok memasak. Tinggal amati anak memiliki kecenderungan yang mana. Dan gabungkan dengan mereka yang menyukai kegiatan bersama. Nah, mereka akan membentuk pertemanan baru kan ? Jadi clear sudah kekhawatiran tentang sosialisasi.

Selain itu, ada anak yang memang supel. Tak butuh waktu lama untuk memulai interaksi. Ia akan mudah berkenalan dan memulai percakapan. Ada pula anak yang berjiwa pemalu. Butuh waktu lama baginya untuk observasi lingkungan sekitar. Semua hanya butuh stimulan. Dimana ia berada dan bermain, tak menjadi soal dengan siapa ia berhadapan.

Jadi bagi kami, penting dalam menentukan dengan siapa anak bersosialisasi. Karena sosialisasi saat ia masa kecil adalah cikal bakal yang membentuk keperibadiannya.

Yuk mak,
sama-sama kita jaga anak kita dalam bersosialisasi.
Anak HS maupun anak sekolah regular, poinnya adalah tetap mewujudkan lingkungan sosialisasi yang aman dan nyaman bagi anak.

Dan semuanya dimulai dari keluarga :)
Share:

14 comments:

  1. Di tempat saya lingkungannya gak terlalu banyak anak kecil aeumuran anak saya, kebanyakan usianya di atas dan di bawah dia, jadi kadang kasihan juga karena kalau main suka nggak ada kawannya. Jadi takut ada konflik batin dalam bersosialisasi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ajak ktmuan sm anak seusianya teh.
      Misalkan ke club olahraga atau kesenian.
      Hehhehe

      Delete
  2. Selalu salut sama parents yang ikutin program HS karena komitmennya luar biasa euy. Walopun belom nikah suatu saat aku juga mau HS aja rencananya.. makanya lagi mulai nyari nyari tau nih.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah bener mba.
      Rencana HS keluarga kami pun dimulai sebelum menikah :)

      Delete
  3. Setuju, meskipun saya belum berumahtangga, bersosialisasi lepas dari gadget amat penting dilakukan, apalagi untuk anak-anak masa kini, mereka butuh interaksi dengan lingkungan dan orang-orang. Kadang miris ketemu anak-anak yang kadang ssah merespon orang lain atau menghindar bertemu orang baru.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Krn terlalu asyik dg gadget ya kak :(

      Delete
  4. wah, Poyotmo sudah ada gajahnya sekarang ya, jadi homeschooling rencananya sementara atau seterusnya mbak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkwkw
      Gajahnya di safari Bintan kak.

      Insyallah sampai SMA kak.
      Cuma klo suatu saat anaknya punya kecenderungan sekolah atau ingin mengetahui dunia sekolah regular, mgkin dipertimbangkan utk sekolah.
      Semua kembali ke anak :)

      Delete
  5. kenapa pilih homeschooling kak? homeschooling itu memanh harus punya komitmen yang kuat di antara kedua orang tua dulu ya baru bisa menerapkannya dengan baik. jadi saling mendukung kalau salah satunya mulai lelah. bagus ya pak suami sudah memiliki komitmen untuk homeschooling jadi bisa saling menguatkan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebagai orang tua, kami tidak sanggup melawan arus keburukan dunia luar.
      Jd kami ingin mengokohkan anak dr dalam rumah kami.

      Bener.
      HS harus kesepakatan suami dan istri mba.
      Jgn sampe saling salah saat tumbuh kembang anak tidak sesuai ekspektasi.
      Hehehhe

      Delete
  6. home schooling ... saya masih bingung untuk menerapkan sama anak,
    berhubung baru 3 tahun, mau coba dulu homeschooling dari ibu dan bapak

    semoga bisa

    anyway ... ini keren banget lho tulisan

    hehehehe

    seperti apa yang ada di benak saya kemarin ... pas lagi curhat sama isteri

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener pak.
      Hrs dimulai dg komitmen sama pasangan dulu.
      Biar kompak :)

      Delete
  7. hmm... home schooling.
    adalah orang tua yg luar biasa menurut sy
    karena sy blm mampu
    apalagi sbg ibu bekerja
    apalagi anak cuma 1 dan termasuk "keras" dgn ortu tapi bisa "lunak" dgn orang lain spt guru di sekolah
    untuk membentuk akhlak anak yg baik saya memasukan ke sekolah islam terpadu
    dan memang nampak perubahannya
    bahkan kami yg ikut mendapatkan pelajaran darinya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener mba.
      Memilih sekolah yg tepat itu keharusan.
      Jgn sampai anak salah pergaulan krn salah sekolah :)

      Delete