Tuesday, October 24, 2017

Teliti Harga Sebelum Meringis Kemudian

mainan favorit khalid

Cuaca di Batam lagi sering hujan, kadang disertai petir yang menggelegar. Cuaca seperti ini sering membuat malas keluar rumah. Belum lagi mesti jaga jemuran. Balada mamak-mamak bener dah !

Aniway, Saya sedang keranjingan membelikan Khalid mainan. Ini adalah resiko keputusan saya dan suami untuk menghentikan aktivitas gadget. Ceritanya bisa di intip di sini . Salah satunya yang paling saya sukai adalah mainan kayu.

Mainan kayu non-toxic pastinya. Bisa dirakit dan dibongkar Khalid. Saya dan suami pun sengaja mendatangi salah satu Mall. Khalid girang mendapatkan truk mainan kayu. Asyiknya lagi truk ini bisa dibongkar dan dipasang. Ada palu dan baut yang bisa mengasah motorik halusnya. Harganya menurut saya lumayan mahal, Rp 200.000. Baiklah, karena anak suka dan banyak manfaatnya kami pun membeli itu mainan.

Sebagai mamak, rasanya gemas. Ingin membeli aneka mainan itu. Harganya memang diatas Rp 50.000 semua. Ah, untuk anak standar mahal itu sungguh relatif. Sebelum kalap, saya berpikir ulang. Bagaimana jika belanja online saja ? atau langsung beli banyak untuk dijual ulang ? Ah, mamak-mamak emang jeli melihat peluang. Hahaha

Akhirnya sampai di rumah saya cek toko online. Salah satunya situs jual beli online ini. Dengan kata kunci “ mainan kayu truk” munculah mainan persis truk seperti yang baru saja saya beli untuk  Khalid dengan harga Rp 139.999 !

Lemes mak ! bedanya cukup jauh. Tapi apa daya barang sudah kebeli. Istighfar aja sisanya. Akhirnya saya membeli beberapa mainan kayu secara online. Harganya pasti lebih murah kadang ada promo ongkir.


Untuk menghibur diri akibat kesenjangan harga, bolehlah mak pura-pura khilaf dengan mengklik bagian perhiasan. Nemu bros Kenya (bros yang biasa dipadupadankan dengan kebaya) seharga Rp 15.000 yang kalau kita beli di Mall seharga Rp70.000. Tips ! jangan pernah beli 1 ! sayang ongkirnya. Hihihi.

Hati-hati ya mak khilafnya bablas. Jangan lupa berdoa sebelum klik ke keranjang belanja. Jangan sampai meringis kemudian.
Share:

0 comments:

Post a Comment